Yogi dan Kalajengking
Seorang Yogi (= orang yang mempraktekkan Yoga), yang duduk bersamadi di pinggir sungai Gangga, melihat seekor kalajengking masuk ke dalam air di depannya. Dia memungut kalajengking tersebut, namun disengat oleh binatang itu. Kalajengking itu jatuh lagi ke dalam air. Sekali lagi yogi tersebut menyelamatkannya, dan sekali lagi dia disengat. Kejadian itu berulang dua kali lagi, dan baru setelah itu seseorang yang melihat kejadian itu bertanya kepada yogi itu, “Anda terus juga menolong kalajengking itu, padahal satu-satunya terima kasih yang ditunjukkannya adalah menyengat Anda ?”
Yogi itu menjawab, “Memang sifat kalajengking adalah menyengat, sedangkan sifat para yogi adalah menolong yang lain jika mereka mampu melakukannya.”
Puisi
Ada suatu cerita mengenai seorang pemuda yang menyenangi puisi dan tinggal berseberangan sungai dengan gurunya. Pemuda itu, pada suatu hari menulis puisi yang isinya menguraikan tentang tidak adanya sifat ke-AKU-an dalam dirinya, dimana angin dari delapan penjuru pun tidak akan mampu menggoyahkannya. Setelah puisi tersebut selesai ditulis, yang menurut dia adalah yang terindah, maka diutuslah pelayannya ke seberang untuk dikirimkan kepada gurunya dengan maksud mendapatkan pujian.
Gurunya, sesudah membaca puisi tersebut, langsung menulis di belakang kertas puisi itu, “Puisi anda ini BAU seperti KENTUT !”
Tentu saja pemuda itu marah bukan kepalang setelah membaca komentar gurunya. Diapun memutuskan untuk mengunjungi gurunya secara langsung dan dengan emosi meluap, dia berteriak, “Guru sungguh tidak bisa menghargai keindahan puisi. Puisi itu adalah yang terindah menurut saya, tetapi guru bukannya memberikan pujian, malah mencerca seperti BAU KENTUT !!”
Gurunya menjawab sambil tertawa, “Ha..ha..ha.., muridku, bagaimana engkau mengatakan sudah tidak mempunyai sifat ke-AKU-an sampai angin dari delapan penjuru pun tidak mampu menggoyahkan dirimu. Lihat saja, baru kena satu angin kecil saja (kentut), Anda sudah terbirit-birit menemuiku !!”













