Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Boy and Tree

There was one time a very young boy, who used to spend time playing by a tree.

One day he got bored and he said to the tree, “I’m bored, I’ve played with these toys too many times!”

The tree replied, “OK, you can climb up on me and play on my branches.”

The boy got really happy with this suggestion and he had a lot of fun playing and sitting high up, on the branches of the tree.

When he started school, he spent more time away from the tree, but one day he came back to it, and the tree was overjoyed to see its young companion, and it encouraged him to climb on, but he refused.

“My clothes are going to get dirty if I climb up on you.”
So the tree thought for a while, and said, “OK, bring a rope and tie it to me, and you can use my branches as a swing.”

The boy liked that idea, so he did that too, and would come back every other day to sit for a while on that swing.

Whenever he used to get hot, the tree told him to rest in its shade.

As he got older, and moved on to college, times became harder on him and he ran short of food, so he went back to the tree which he had stopped visiting for a long time.

The tree recognised him immediately and welcomed him, but he was hungry and complained to the tree, “I dont have any food to eat, my stomach is cringing with hunger.”

So the tree said, “Pull down my branches and take off the fruit, and fill yourself up.”

The young guy didnt even hesitate, but jumped up and tore off one of the smaller branches and ate to his fill.

Over the weeks, he tore off all the branches and ate all the fruit.

After the fruits had all gone, he went away and didnt come back to the tree.

When he reached his middle ages, he came back to the tree and said to it, “I have been very successful in life.

I have earned a lot of money, I have a huge house and I have found a great wife.

Now I want to travel and see the world.”

The tree was now very old, but to help its long time companion, it didnt wait, and said, “Bring a saw, cut off my trunk and make a boat. Then you will see the wonders of the world.”

So again, without hesitation the man cut down the tree.

The same tree which he had played on, ate its fruit, laid in its shade; he cut it down and made a boat.

As soon as it was finished, he sailed away and wasnt seen by his people again.

One day, an old man, walked past the tree.

It hadnt recovered from the time he had cut it down. He went up to the tree, but didnt say anything.

He felt the tears coming down from his eyes.

This time the tree spoke in a faint voice, “I’m sorry. I dont have a trunk for you to climb, nor fruit for you to eat, nor branches of shade for you to lie in. All I have now are my deep roots.”

The old man whispered, “That’s fine. Tree roots are the best place to lie down, snuggle up and sleep after a long life.”

The tree symbolizes our parents, and the boy symbolizes us.

The moral of the story is that we make use of our parents like tissue, and use them all up, and dont even give thanks, but they stay with us till the very end.

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih lagi.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah . “Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah
apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki
batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang. “Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.


Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

June 6, 2008 - Posted by | Education, Life Style, Soul's Medicine

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: