Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Bejo di Tahun 2250

Cerpen, by: Hidayat Banjar

Here is a short story (in Indonesian language) from my friend. We dedicate it to all readers (of course, who understand Indonesian Language ^_^) who like reading short stories. Enjoy it!!

 

Pagi, Bejo bangun dari tidur. Cahaya matahari telah penuh menyirami bumi. Bagai orang yang baru keluar dari tempat gelap, berhadapan dengan cahaya yang penuh, Bejo silau tak dapat melihat apa-apa. Dirabanya ke samping kiri, istrinya telah tidak ada di tempat. Suara anak-anak tak terdengar, mungkin sudah dihisap oleh kesibukan masing-masing.

Cahaya matahari yang masuk dari kaca jendela menyilaukan mata. Bejo mengucek-ngucek mata, menggeliat. Sesekali, pegawai negeri rendahan ini menguap. Perlahan, pandangannya yang berkunang-kunang mulai normal. Setelah penglihatannya kembali sempurna, Bejo melihat ke jam dinding, “Wah aku bangun kesiangan rupanya,” ujarnya dalam hati.

                        Entah kenapa di pagi yang bermandi cahaya mentari itu, Bejo teringat pendidikan anak-anaknya. Tadi malam si Bungsu bercerita bahwa uang sekolahnya sekarang naik, dari satu juta lima ratus ribu rupiah menjadi dua juta rupiah, uang ongkos angkot ditambah keperluan ini itu ditaksir sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah per bulan. “Ini lain uang buku,” kata si Bungsu mengakhiri ceritanya. Si Bungsu baru duduk di kelas VI SD (Sekolah Dasar) swasta.

Bejo menghitung-hitung dengan jarinya, persis seperti anak-anak baru belajar berhitung. Anaknya ada enam orang, semuanya masih dalam masa pendidikan yang memerlukan biaya tak sedikit. Pendidikan kini bagai barang mewah saja, makin tak terjangkau bagi orang-orang berpenghasilan rendah.

Bejo memang dianjurkan oleh orangtuanya untuk punya anak banyak. Tapi ia merasa cukup dengan enam orang saja. Bejo sadar, betapa repotnya mengurus anak-anak jika lebih dari enam. Yang enam orang ini saja pun menurut Bejo, sudah sangat banyak. Namun, bagi orang-orang seangkatannya, enam orang anak belum dapat dikatakan banyak, maklum ketika ia menikah dulu, orang-orang tak lagi menghiraukan apa itu program Keluarga Berencana (KB). Bahkan semua orangtua di negerinya berpesan pada putra-putri mereka agar mencari pasangan hidup yang subur guna memperbanyak keturunan.

Maklum, perang bintang dan bencana alam membuat makhluk bumi di negara mereka dan negara-negara lain seketika mati dalam jumlah yang cukup banyak. Negerinya pernah dilanda gempa bumi dan gelombang tsunami yang dahsyat, menewaskan ratusan ribu manusia. Ketika gempa terjadi, ombak laut menerjang daratan dan menenggelamkan apa saja yang terkena hantamannya.

Gempa juga pernah membuat tanah merekah, ratusan ribu rumah beserta penghuninya seolah ditelan kegaiban, lenyap ke dasar bumi. Kemudian dalam seketika bumi mengatup kembali. Ratusan ribu manusia lainnya terjepit reruntuhan gedung-gedung bertingkat.

Perang bintang lebih dahsyat lagi, menewaskan seluruh manusia yang terkena racun ganas mematikan. Semua itu tercatat dengan baik di buku-buku sejarah dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT).

Karenanya, orangtua Bejo – seperti orang-orangtua lainnya ketika itu – berpesan kepada anak-anak mereka, agar mencari pasangan hidup yang subur. “Berkembangbiaklah sebanyak-banyaknya. Bangsa kita tak boleh punah di permukaan bumi ini,” pesan orangtua lelakinya ketika itu.

Coba bayangkan, ketika perang bintang terjadi, mesin pembunuh tersebut digerakkan hanya dari kantor musuh, tapi dapat menewaskan seluruh makhluk hidup di wilayah TO (Target Operasi). Kapsul besar itu dikirim lewat teknologi komputer yang tentu saja dengan perhitungan sangat cermat. Sampai di wilayah target, kapsul besar berisi racun itu meledak di angkasa. Bertebaranlah aroma mematikan tersebut. Setiap makhluk hidup yang menghirup oksigen, tewas disebabkan racun yang menyebar di udara.

Dari sebuah kantor di negeri jauh, bangsa musuh menembakkan kampsul berisi racun pembunuh yang sangat mematikan ke ibu kota negara dan ibu-ibu kota provinsi yang ada di negeri Bejo, sehingga seluruh penduduk kota mati dengan kondisi mengenaskan. Jantung mereka pecah. Darah menetes dari hidung, telinga dan mulut. Tubuh mayat-mayat yang bergelimpangan itu hitam legam, seolah hangus terbakar. Menakutkan! Tentu saja sangat menakutkan. Itulah sejarah kelam bangsa manusia akibat obsesi sekelompok orang yang ingin jadi penguasa dunia.

Pemimpin-pemimpin perang berkeyakinan, perang modern tak sama dengan perang konvensional. Dalam perang konvensional, strategi desa mengepung kota, masih dapat diterapkan. Tetapi, dalam perang modern, kota-kotalah yang harus dilumpuhkan. Sebab, pusat teknologi ada di kota-kota.

Benar adanya, kota-kota lumpuh dalam seketika dihantam racun dari perang bintang itu. Negara yang diperangi benar-benar lumpuh. Tapi, bukan penguasaan atau aneksasi yang dilakukan negara musuh. Malah negara musuh memperlihatkan sikap bersahabat dan meminta maaf kepada negara di mana Bejo bermukim atas kejadian menakutkan tersebut. Sikap ini muncul karena dampak perang yang begitu dahsyat. Bangsa musuh pun rupanya tak pernah menduga, kalau perang bintang berdampak begitu dahsyat. Bangsa musuh akhrinya tak jadi menguasai negeri Bejo yang luluhlantak, malah membangunnya.

Mengapa tidak, usai perang, tinggallah bangunan-bangunan saja serta bau bangkai manusia menyergap sudut-sudut kota hingga ke pelosok. Pokoknya dari titik ledakan hingga radius 1000 km terkena racun. Maka punahlah seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya yang menghirup oksigen dalam radius 1000 km. Sebagaimana sajak Chairil Anwar, udara memang benar-benar bertuba.

Usai perang, dunia – termasuk negeri di mana Bejo bermukim – benar-benar bagai zaman purbakala. Tak ada peralatan canggih seperti komputer, mesin-mesin, dan teknologi modern lainnya. Negara benar-benar lumpuh. Kehidupan terselenggara begitu bersahaja. Mimpi penguasaan dunia lumer dan menguap karena ketakutan hilangnya perdaban. Mimpi-mimpi tentang penguasaan dunia bukan lagi ide yang populer. Justru membangun kebersamaan, membangun aliansi strategis tanpa perasaan superioritas menjadi trand bangsa-bangsa dunia.

Bejo dan keluarga serta bangsa manusia, juga makhluk hidup lainnya dapat selamat dari racun mematikan itu karena bermukim di wilayah hutan. Racun mematikan itu tak sampai ke wilayah mereka. Para pemimpin perang ketika itu memang memilih TO ibu-ibu kota negara serta provinsi.

                        Perlahan, sistem kenegaraan, mulai dari desa hingga ke pusat terbangun kembali. Cuma, ketika itu pemimpin-pemimpin tak lagi suka menonjolkan kehebatan pribadi. Seluruh konsep pembangunan tetap bersandar pada keinginan rakyat.

                        Sangat mengejutkan, pembangunan mengalami proses percepatan yang maksimal. Kehidupan kembali berdenyut. Bahkan sangat mengagetkan bagi orang-orang yang tak siap menghadapi perubahan.

***

Anak Bejo yang bungsu masih duduk dibangku sekolah dasar (SD). Dua orang  sekolah lanjutan pertama (SMP), yang dua di SMA, dan yang satu lagi – yang sulung – menduduki bangku kuliah tahun kedua Fakultas Sastra di universitas cukup terkenal di kotanya. Bejo menotal, berapa puluh juta harus dikeluarkan setiap bulannya hanya untuk memenuhi pendidikan anak-anaknya. Berapa ratus juta, bahkan miliar rupiah setahun untuk keperluan hidup keseluruhan. Bejo merenung.

                        Kemarin ia berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, niatnya hanya untuk melihat-lihat saja dan jika kebetulan ada yang menarik dengan harga murah pula, ia akan membelinya. Selama ini ia sudah lama tidak membeli pakaian anak-anak, istri dan dirinya. Begitu pula keperluan rumah tangga lainnya. Bejo tercenung waktu menawar sepotong celana yang cukup sederhana. Si  pedagang mengatakan, celana itu cukup murah, hanya Rp 1.600.000 saja. Bejo tak jadi membelinya, karena menurut anggapannya harga celana itu cukup tinggi untuk jangkauan kantongnya yang hanya pegawai negeri rendahan.

                        Bejo berjalan lagi, melihat-lihat permainan anak-anak, di situ dipajang boneka-boneka yang cantik, mobil-mobilan, motor-motoran, dari model tahun silam sampai model mutahir. Bejo merasa takjub.

                        Waktu Bejo masih kanak-kanak, kota tempat tinggalnya sekarang belumlah menjadi kota, masih desa yang penuh kesegaran. Pohon-pohon tumbuh di sana-sini dengan suburnya. Jika Bejo ingin bermain mobil-mobilan, ia buat dari kayu. Demikian pula dengan permainan lainnya.

                        Kini zaman berubah, trand aliansi strategis bangsa-bangsa di dunia menghidupkan peradaban yang hancur usai perang bintang. Desa Bejo yang dulu dikelilingi hutan lebat, perlahan-lahan berubah menjadi perkampungan yang besar dan luas. Justru sebaliknya, kota-kota yang terkena perang bintang, karena dianggap berbahaya, dibiarkan tak diurus hingga belakangan menjadi hutan. Siapa yang mau mengurus, masuk ke wilayah itu saja orang sudah takut.

                        Perkampungan yang besar dan luas tempat Bejo bermukim itu, perlahan-lahan jadi kota besar yang modren dan gemerlap. Hutannya habis. Sawah-sawah kini lenyap menjadi bangunan megah. Kerbau-kerbau tidak berfungsi lagi sebagai penarik bajak, digantikan oleh mesin pembalik tanah, traktor tangan, maupun traktor besar.

Sisno-sinso membabat habis pohon-pohon kayu yang berumur puluhan serta ratusan tahun. Kampungnya pengab oleh baurnya beragam bahan kimia dan asap pabrik plus kendaraan bermotor. Plaza-plaza, mall-mall, hypermarket adalah bagian kota yang megah serta full ac (air condition). Sementara udara di luarnya begitu terik. Mengapa tidak, permainan anak-anak pun telah digerakkan oleh mesin.

                        “Cari apa Pak,” tanya seorang pelayan wanita yang berpakaian sangat seksi, sehingga tonjolan-tonjolan tubuhnya begitu kentara. Roknya hanya sejengkal lebih sedikit, tipis pula lagi. Begitu juga dadanya, kalau ia membungkuk, pastilah tonjolan itu akan menyembul ke luar.

                        “Oh, tidak, lihat-lihat saja,” jawabnya. Bejo bertambah bingung ketika seorang berperut buncit, berkulit putih bersih, membeilkan permainan untuk anaknya.

                        Setelah mengumpul seluruh permainan yang diinginkan anaknya, lelaki necis itu bertanya kepada pelayan: “Berapa ya,” bahasa Indonesianya tidak sempurna bahkan buruk bercampur dengan dialek asing. Pelayan menghitung sebentar dengan kalkulator. “Duabelas juta tiga ratus ribu rupiah saja Pak,” jawab si pelayan yang seksi. Sementara pelayan yang lain membungkus permainan tersebut.

                        “Wah… hanya untuk permaian anak-anak saja sampai sebegitu mahal?” Celoteh Bejo dalam hati. “Waktu aku masih kanak-kanak, permainanku segalanya serba gratis,” tambahnya pula, masih di dalam hati.

                        Tidak satu benda pun dibeli Bejo di pusat perbelanjaan itu, baik pakaian, permainan anak-anak maupun keperluan rumah tangga karena koceknya tidak dapat menjangkau harga barang-barang yang dipajang. Maklumlah, Bejo hanya pegawai negeri rendahan yang hanya tamatan strata satu (S1). Sementara pegawai-pegawai menangah ke atas diisi oleh para Doktor (S3) atau setidaknya S2. Makanya Bejo dan keluarga harus hidup dengan serba hemat.

Bejo ke luar dari pusat perbelanjaan itu dan berjalan pulang meninggalkan kemegahan pusat perbelanjaan penuh ac. Terik matahari menyambutnya, sementara orang-orang yang berkantong tebal, sekeluar dari pusat perbelanjaan itu, berlindung dari sengatan matahari  dengan masuk ke mobil-mobil mewah full ac, bertempat duduk empuk, ruangan nyaman serta wangi.

Bejo berjalan saja di atas aspal yang seakan mau mencair dipanggang matahari. Ia tidak naik taksi, karena sangat mahal menurut ukuruan koceknya. Angkutan becak tidak ada lagi, tinggal hanya di buku sejarah. Becak tak lagi digunakan sebagai alat transportasi. Tidak manusiawi, begitulah kata tokoh-tokoh pejuang HAM (Hak Asasi manusia). Angkot (angkutan kota) tidak ada yang yang melintas ke arah kediamannya. Maka ia putuskan berjalan kaki saja. “Toh, tak begitu jauh dengan memotong jalan serta jalan-jalan tikus,” katanya membela keadaannya yang terus bersahaja sepanjang hayat dikandung badan.

                        Bejo berjalan terus di trotoar kota. Saat melintasi sebuah rumah besar, hatinya terenyuh ketika menyaksikan di halamannya, tertambat seekor monyet kurus kering dengan beberapa luka yang dikerubungi lalat. Sesekali monyet itu menangkap lalat-lalat tersebut dengan tangan yang merangkap kaki. Lalat yang tertangkap dimasukkannya ke dalam mulut. Sesekali sang monyet menggaruk-garuk kepalanya. Begitu dapat kutu, lalu dimasukkan ke mulutnya.

Pada momen lain, si monyet seperti menitikkan air mata memandang pohon-pohon yang meranggas mengarah kering di halaman rumah besar tersebut. Mungkinkah tanah sudah tidak subur lagi sehingga tanaman-tanaman jadi gersang.

                        Monyet itu memandang ke arah Bejo seakan berkata: “mana pohon-pohon untukku Bejo”. Bejo diam dan tercenung lagi. Ya, ia hanya dapat diam, tak mungkin berkomunikasi dengan si monyet. Bejo bukanlah ahli ilmu jiwa binatang apalagi dapat berbicara dengan binatang. Tidak! Bejo hanyalah pegawai negeri rendahan yang berusaha bertahan dalam kejujuran. Ia tadi hanya mereka-reka saja apa yang sedang dialami si monyet yang meneteskan air mata, dan Bejo ikut berduka.

                        Bejo berjalan lagi, ia coba lupakan tentang monyet itu. Ia melihat ke arlojinya, jarum jam  telah menunjukkan pukul 1.30, matahari membakar ubun-ubun. Terik sekali. Bejo berkeringat dan merasa gerah. Betapa tidak, jalan yang ditempuh tanpa naungan pohn-pohon penyerap panas.

                        Teggorokannya kering. Di sudut sana matanya menangkap penjual cendol. Bejo berjalan ke arah itu. Setelah sampai dan duduk di bangku yang disediakan, Bejo memesan segelas. Meneguknya dengan penuh nikmat. Ia selenjorkan kakinya yang telah mulai letih, karena sekian jam berjalan-jalan mulai dari pusat perbelanjaan tadi hingga sampai ke penjual cendol.

                        “Berapa Pak,” tanya Bejo setelah selesai minum dan beristrahat melepaskan lelahnya. “Tujuh puluh lima ribu rupiah saja,” jawab si penjual cendol, Bejo membayarnya dengan uang tukaran Rp 100.000. Setelah mendapat kembalinya, Bejo ingin melangkah, tapi tiba-tiba: “Pak kenapa belum pergi kerja”.

                        Bejo tersentak dari lamunannya. Rupanya sedari tadi ia belum bergerak dari termpat tidur.

                        “Oh, Bu, dari mana?” Bejo kaget.

                        “Hari telah pukul sebelas, tapi Bapak mandi pun belum. Bapak tidak pergi kerja ya? Oya Pak, tadi saya belanja. Saya membeli ini, bakal celana, dan ini, dan ini,” ujar istrinya sembari memperlihatkan barang-barang yang dibelinya. “Semuanya berjumlah sembilan juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah,” sambung istrinya.

                        Bejo tersentak, lantas bangkit dari tempat tidurnya. Melihat kalender. “Wah… tahun dua ribu dua ratus lima puluh, dua ribu dua ratus lima puluh,” celotehnya sambil pergi ke kamar mandi. Istri Bejo terheran-heran, kok sang suami bicara sendiri. Istrinya juga bingung, kenapa ia yang sudah capek menerangkan apa-apa yang dibeli berikut harganya, tetapi tak dihiraukan sang suami?

 

June 9, 2008 - Posted by | Bahasa dan Sastra

2 Comments »

  1. Busyet dah,kalo dibandingkan, tu orang sama gajinya dengan dpr,belum lagi presiden,permen mungkin 10000 sebiji

    Comment by Kiki | June 19, 2008 | Reply

  2. Namanya juga udah taon 2250, hohoho ..🙂

    Comment by Joe Leonhart | June 21, 2008 | Reply


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: