Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Mak, Aku Hanya Ingin Bersekolah

Mak, maafkan anakmu ini yang pergi diam-diam. Aku tak mau terkurung di desa sesunyi ini Mak. Jujur saja, aku cemburu dengan kehidupan kawan-kawan yang dapat bersekolah dengan tenang, berkumpul dengan ayah, ibu, kakak serta adik.

Maafkan, jika surat ini bernada cengeng. Tapi Mak, siapakah yang dapat menahan tangis, ketika tersentak dari pingsan yang panjang, mendapatkan keluarga berserak entah ke mana. Aku anak lelaki Aceh yang ketika peristiwa menakutkan itu terjadi baru berusia 14 tahun. Mestinya di usia 15 tahun ini aku sudah tamat dari SMP. Sebab ketika tsunami memisahkan keluarga kita, aku sudah duduk di kelas dua SMP. Mak juga tahu itu.

Mak, izinkanlah sekali ini saja, aku – anak lelaki Aceh yang didik keras oleh ayah – untuk berharu-biru dengan Emak. Minggu yang cerah itu – seketika – jadi menakutkan sekali, merampas segalanya dariku. Merampas masa kanakku tentang Lam Tengo* yang malam-malam kita isi dengan pengajian atau mendengar petuah-petuah lewat didong atau dongeng atau lainnya.

Mak mungkin tak kan pernah lupa, usai makam malam dan mengaji, kita sekeluarga berkumpul di ruang depan rumah. Ayah memberikan wejangan lewat dongeng-dongengnya. Sesekali debur ombak dari pantai Lam Awil memerdui telinga. Ditingkahi suara hewan malam, irama ombak bagai rangkaian musik yang ritmis. Berulang-ulang. Merdu dan syahdu. Semua itu kini tinggal kenangan.

Maafkan aku, kalau Mak kutinggal dengan adik di sebuah dataran luas yang hanya ada tiga gubuk dikelilingi ilalang kuning. Mak, aku mau sekolah. Akan kurebut kembali masa depan yang nyaris hilang. Biarlah Lam Tengo jadi masa lalu, di mana kicau kehidupan riuh rendah, hingga tiba hari menakutkan itu. Seketika, semua jadi puing.

Pasir kuarsa yang kemilau diterpa mentari. Nyanyian bakau, nyiur, cemara dan kicau burung-burung pantai serta lainnya, sirna.  Kecamatan Pekan Bada rata ditelan tsunami. Tak ada lagi lambaian Lam Tengo yang kerap memanggil-manggil keluarga kita yang berada di negeri rantau. Pasir kuarsa yang kemilau diterpa mentari, nyanyian pelepah rumbia, nyiur, gesekan daun bakau, cemara, dan kicau burung-burung pantai serta lainnya, sirna.

Mak, usai petaka itu, kususri tenda dan rumah-rumah pengungsian, tiap jengkal Banda adalah air mata, tak ada jejak Ayah. Dari pagi ke senja, dan pagi ke senja berikutnya kususuri pantai, yang terlihat di sana adalah jejak tsunami. Akhirnya, dalam keputusasaanku, seorang ibu muda menepuk-nepuk bahuku. Ternyata, dia adalah Emak dan calon adikku.

Dalam pencarian yang melelahkan itu, aku nyaris mati lemas karena tak makan dan minum. Untung seseorang menyelamatkanku, membawaku ke sebuah tenda pengungsian. Di tenda inilah aku bertemu Emak dan calon adikku.

Setelah kesehatanku pulih, tiga hari kemudian, aku kembali mencari Ayah. Tapi senja hanya mengantarkanku pada kegelapan. Jejak Ayah tak juga kutemukan.

Ketika itu, sejauh-jauh mata memadang adalah puing, terutama daerah-daerah pesisir pantai. Satu dua bangunan memang masih berdiri dalam posisi oleng atau retak, sisanya adalah masjid. Kecamatan Pekan Bada, Lhok Nga, Lepung, Meuraxa dan lainnya tak terlihat lagi. Semua digenangi air laut. Saat berada di Ulee Lheu terlihat mercusuar yang tinggal menara tanpa lampu penerangan. Di sini dulu aku sering diajak penjaga lampu mercusuar yang baik hati untuk memandang kehidupan laut yang seperti tanpa tepi. 

Di seberangnya adalah Lam Tengo yang tak jauh dari tempat wisata Lam Awil. Dulu, kebiruan gunung Mate’i tempat aku dan sebagian warga diselamatkan atau menyelamat diri dari amukan tsunami merupakan daerah wisata yang ramai dikunjungi. Ya, ketika itu betapa indahnya desa kita, Mak tahu itu kan? 

Kemudian, nasib mengantarkan kita berada di tengah dataran yang ditumbuhi ilalang kuning. Di dataran yang luas, hanya tiga buah gubuk sederhana, salah satunya tempat kita berteduh, terpaksa aku tinggalkan. Aku bukan tak sayang dengan Mak dan adik yang masih berusii 1,5 tahun. Bukan! Aku hanya ingin bersekolah. Di sini, tak kan mungkin kurengkuh masa depan.

Untuk menjangkau tempat kita saja, orang-orang harus melalui jalan alternatif di pinggir sungai Krueng Cut, Aceh Besar. Dengan kondisi jalan berlumpur dan berbatu. Makanan pun, harus menunggu dari kebaikan hati orang-orang yang mengantar atau kita jemput dengan susah payah. Entah apa yang Emak tunggu di sini, aku tak tahu.

Tiga gubuk ini pun baru berdiri tiga bulan yang lalu. Mak dan beberapa orangtua membangunnya dengan kayu dan papan bekas yang diboyong tsunami.

Bila siang, udara panasnya begitu terasa. Debu berterbangan dan selebihnya senyap. Tidak ada anak-anak yang bermain dan kesibukan masyarakat. Gersang. Aku kesepian, dan tanpa harapan Mak. Sekolah, jangan tanya, itu hanya impian, bila aku bertahan di sini. Di Dusun Musafir Alue Naga, Aceh Besar ini setelah tsunami menghantam, yang tersisa adalah ilalang.

Mak pernah bilang, sebahagian besar warga Dusun Musafir memang masih bertahan di pengungsian. Mereka mengungsi di bantaran sungai Alue Naga. Di sana pihak Palang Mereah Internasional (IFRC) mulai membangun rumah sementara untuk para pengungsi.

Aku selalu bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang membuat Mak dan oranguta lainnya mau bertahan di tiga gubuk ini, memilih kembali ke tanah yang sudah gersang ini? Padahal di sini tidak ada listrik dan air bersih seperti di pengungsian. Bahkan kita, para pemilik gubuk harus pergi sejauh 1,5 km untuk mendapatkan air bersih. Sementara untuk kebutuhan mandi dan mencuci, kita terpaksa mengambil dari sumur bor, warisan tsunami yang airnya sudah sedikit payau.

Menurut Kek Saini, tetangga kita, dirinya merasa lebih nyaman di sini ketimbang di pengungsian dan lebih dekat dengan sumber mata pencariannya. Kek Saini yang nelayan, memang hidup dari melaut. Tapi kita? Apa yang kita harapkan bertahan di Dusun Musafir ini? Memang, tak jarang, hasil tangkapan Kek Saini – berupa ikan, udang dan lainnya – diberikannya kepada kita, tapi Mak, aku butuh sekolah..

Sedangkan Mak, bila kutanya, hanya mengatakan: sudah sangat bosan berlama-lama di pengungsian. “Apalagi Mak punya seorang bayi kecil, berumur 1,5 tahun,” itu alasan yang tak memperhitungkan masa depanku dan masa depan adik.

“Susah kalau di pengugsian itu, gak bisa leluasa,” kata Mak berulang-ulang padaku. “Daripada hanya menunggu pembangunan rumah oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Mak lebih suka langsung ke desa ini dan membangun gubuk sendiri”.

Kondisi Kek Saini, hampir sama dengan Kek Abdullah yang usianya 60 tahun. Lelaki tua tersebut kembali ke desa ini karena mulai tidak betah di pengungsian. Dia membangun sebuah gubuk ukuran 3 X 3 meter. Dia tinggal sendirian, anak dan istrinya ditelan tsunami. Malam hari gubuk milik Kek Abdullah terang dengan lampu bertenaga matahari. Meskipun sendiri dia tetap bahagia. “Bagaimanapun ini tanah saya, dan saya memang harus kembali,” katanya kepada orang-orang, juga kepadaku.

Dusun Musafir ini memang tempat yang didatangi tsunami pertama kali dari arah Alue Naga, tetapi hingga sekarang tidak ada pembangunan, Mak pun tahu itu. Janji dari lembaga-lembaga internasional untuk membangun rumah di lokasi ini memang belum terealisasi hingga saat ini. Salah satu sebab lambatnya pembangunan di Dusun Musafir adalah jalan putus yang menghubungkan ke desa ini belum diperbaiki, sehingga agak sulit memasok bahan material bangunan.

Kata Kek Abdulah: “Kalau mau dibangun, ya jalannya diperbaiki, biar warga semua kembali ke kampung ini”.

Kapankah pembangunan jalan itu terselenggara, kapan pula sekolah diadakan? Aku sudah tak sabar Mak. Maka, maafkan jika Mak dengan terpaksa kutinggalkan. Aku mau sekolah Mak, itu saja. Jika aku sudah mampu, Mak dan adik akan kujemput. Selamat tinggal Mak. Salam dari Anakmu: Juned.

***

Gemetar tangan Nurjannah membaca surat dari anaknya yang di usia kanaknya tersebut, telah mampu menyusun kata-kata begitu bagus, bak orang dewasa saja layakanya. Ia meraung-raung sekuat-kuatnya, tetapi siapa yang mendengar? Dua tetangganya: Kek Abdullah dan Kek Saini sedang menaklukkan gelombang mencari nafkah. Pagi menjelang siang terik itu, demikian menyiksa Nurjannah. ***

 

 

Bada Aceh

Akhir Juli 2006

By: Hidayat Banjar

June 10, 2008 - Posted by | Bahasa dan Sastra

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: