Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Fenomena Uang di PTN Kita

Saat ini ada lima jalur untuk lulus PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Kalau punya uang relatif banyak, tak perlu mikir keras, saat ini ada JK (Jalur Khusus). Siswa kelas 3 SLTA yang berkeinginan kuliah di PTN, jika cukup uang, tak perlu repot-repot ikut seleksi, bayar saja sesuai ketentuan. Selesai.
Jika keuangan relatif sedikit maka ada juga jalur ‘jalan tol’ untuk masuk di PTN yang tentu saja harus punya otak cemerlang alias encer. Persiapkan diri jadi yang terbaik: Ranking I, II dan III di sekolah, berkemungkinan dapat menempuh Jalur PMP (Pengembangan Minat dan Prestasi), masuk PTN tanpa testing.
Cuma, lewat PMP – yang memang dikhususkan bagi siswa-siswi unggulan – dibarengi dengan ketentuan unggul pula dalam bidang akademis. Selain harus lulus test psikologi, nilai akumulatif alias IP (Indeks Prestasi) semester I, tidak boleh di bawah 2,7. Jika tidak mencapai skor dimaksud, maka mahasiswa atau mahasiswi tersebut harus mengikhlaskan diri DO (drop out).
Andai siswa-siswi SLTA tak berhasil menjadi yang terbaik: I, II dan III di sekolahnya, dapat mengikuti UMB-SPMB (Ujian Masuk Bersama-Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) untuk lima PTN: USU (Universitas Sumatera Utara), UNJ (Universitas Negeri Jakarta), UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, UI (Universitas Indonesia) dan Unhas (Universitas Negeri Hasanuddin). UMB diselenggarakan pada 7-8 Juni 2008. Untuk USU 85 persen dari bangku yang ada tersedia untuk UMB.
Setelah itu ada pula SNM-PTN (Seleksi Nasional Masuk-Perguruan Tinggi Negeri) yang seleksinya pada 2-3 Juli 2008. Untuk USU, bangku SNM-PTN ini hanya 15 persen saja.
Sebenarnya UMB-SPMB juga menjaring orang-orang yang berkemampuan akademik di atas rata-rata. Mengapa tidak, bangku yang tersedia untuk itu sangat terbatas. Bayangkan, untuk USU, dari formulir yang terjual puluhan ribu, bangku yang tersedia hanya 3000 saja. Yang 3000 bangku itu pun harus berbagi pula dengan PMP, Ekstensi, dan JK.
Andai siswa-siswi SLTA yang mengikuti UMB-SPMB tak berhasil lulus, masih ada kesempatan untuk ke PTN, lewat jalur SNM-PTN, jika tak juga lulus ada dua jalan yang dapat ditempuh. Pertama, kuliah dulu di Program DIII. Setelah lulus – boleh bekerja maupun tidak – lalu mengikuti S1 di USU (PTN). Inilah yang disebut Ekstensi.

Berkantong Tebal
Jalan berikutnya adalah Jalur Khusus (JK) seperti yang disebutkan pada awal tulisan. Cuma, JK ini dibuntututi dengan sumbangan pembangunan pendidikan yang membuat orang-orang di strata bawah tercengang-cengang. Konon kabarnya di ITB Departeman Teknik Fisika disedikan 10 bangku dengan biaya pendidikan masing-masing 25.000 dolar AS (Kompas, 17 Juni 2003). Jika satu dolar AS Rp 8 ribu saja, maka satu bangku di departeman dimaksud Rp 200 juta.
Hal yang sama juga terjadi di IPB, UI, dan UGM. Bahkan UGM – ketika itu – melakukan penjaringan calon mahasiswa baru swadana jauh hari sebelun UAN (Ujian Akhir Nasional) – sekarang UN (Ujian Nasional) – dilaksanakan. Materi penjaringan dengan test tertulis dan formulir kesediaan menyumbang sejumlah uang sesuai kemampuan.
Sumbangan untuk jurusan “basah” seperti kedokteran bisa sampai Rp 50 juta atau lebih. Memang ada sejumlah calon mahasiswa baru swadana ini yang diterima tidak memberikan sumbangan alias nol rupiah tetapi mereka masih arus berurusan dengan birokrasi kampus untuk diteliti status sosialnya. Sudah dapat dipastikan, JK memang dikhususkan buat orang-orang berkantong tebal.
Fenomena apa yang sebenarnya sedang terjadi pada perguruan tinggi (PT) BHMN? Berawal dari ide agar PTN mandiri secara financial. Maka digulirkanlah BHMN pada tahun 2003 lampau. Ketika perguruan-perguruan tinggi negeri (PTN) berubah menjadi BHMN (Berbadan Hukum Milik Negara), maka cara-cara seleksi pun berubah pula. Perubahan dimulai dengan UI, UGM, IPB, dan ITB, disusul USU, Unsiyah, Unhas dan lain sebagainya. Dengan BHMN, bertambahlah jalur memasuki PTN.
Saat kondisi serba sulit karena krisis ekonomi yang berkepanjangan, kita justru disuguhi tontonan “mengerikan” yaitu tingginya biaya pendidikan tinggi.
Seyogianya institusi pendidikan negeri dari SD sampai PT dibentuk untuk menampung anak-anak Indonesia yang kurang mampu secara finansial tetapi berkemampuan akademik. Dengan dibukanya JK, jelas mengurangi kesempatan anak-anak yang kurang mampu secara finansial. Mengapa tidak, jika misalnya di USU disediakan 3000 bangku, 500 sudah diambil ekstensi, 500 untuk PMP dan 500 lagi Jalur Khusus, maka jalur UMB-SPMB dan SNM-PTN tinggal 1500 bangku saja.
Bagi ana-anak yang kurang mampu secara finansial, tentunya harus mempunyai kemampuan kecerdasan di atas rata-rata untuk dapat “menerobos” tembok PTN. Bila kemampuan akademiknya hanya rata-rata, niscaya akan tersingkir karena kesempatan untuk itu makin sedikit.
Sementara untuk jadi cerdas serta berkualitas, diperlukan di samping sarana dan prasana, juga gizi yang baik. Apa mungkin anak-anak kurang mampu secara finansial dewasa ini dapat memenuhi tuntutan gizi agar dapat menjadi cerdas? Sebab, biaya hidup kini sangatlah tinggi serta mahal.

Tak mampu bangkit
Kondisi ini membuat orang-orang miskin tak mampu bangkit dari kemiskinanya. Mereka akan terus menjadi miskin karena tidak memiliki keluasan ilmu pengetahuan, sebagaimana yang diperolah kawan-kawannya di perguran tinggi negeri. Untuk kuliah di swasta pun memerlukan dana yang tidak sedikit pula. Singkatnya, yang miskin makin terjepit.
Padahal sebagaimana ditegaskan dalam alenia IV Pembukaan UUD 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai tujuan nasional, semestinyalah negara kita melalui pemerintah berupaya mewujudkannya karena keseluruhan aktivitas pemerintah dan pembangunan negara gilirannya bermuara pada pencapaian tujuan nasional melalui aktualisasi seluruh potensi bangsa secara efisien dan efektif.
Begitu juga di dalam Batang Tubuh UUD 1945 (Pasal 31) ditegaskan, salah satu hak warga negara yakni mendapatkan pendidikan atau pengajaran. Sebagai hak, semestinyalah negara (melalui pemerintah) berupaya mewujudkannya.
Lewat PTN BHMN hak-hak warga negara – terutama kalangan yang kurang mampu secara finansial – dipersempit. Semestinya PTN BHMN membuat cara yang lebih elegan untuk mencari dana. Misalnya dengan mengoptimalkan lembaga-lembaga penelitian, yang kemudian “menjual” produk penelitiannya kepada para pengusaha. Dengan JK ini, jelas-jelas petinggi bidang pendidikan tidak atau kurang punya perhatian pada rakyat kecil. Mereka hanya berorientasi pada kapital (uang).
Bila latar belakang diberlakukan BHMN ini karena anggaran (subsidi) pemerintah yang dikurangi atau dihapuskan, maka seyogianya para pelaku pendidikan – khusususnya PTN – menggugat DPR RI. Pasalnya, anggaran pendidikan kita jauh di bawah 20 persen dari total APBD. Padahal, menurut Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945 Amandemen Keempat menyebutkan, negara memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelangaraan pendidikian nasional.
Dalam pada itu, Eddy Hiariel, dosen UGM, menerangkan dalam tulisannya (Kompas, 27 Juni 2003), diberlakukannya JK dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ia membandingkan biaya pendidikan di Indonesia yang sangat rendah dengan luar negeri. Katanya, tanpa uang, bagaimana mungkin bisa maju.
Pertanyaannya, apakah hal tersebut bukan merupakan perbuatan diskriminasi (negatif)? Juga, tidakkah memberlakukan JK adalah kapitalisasi pendidikan? Jawabnya, kita serahkan saja kepada para ahli. Yang pasti, JK memperbesar kesempatan orang berduit untuk mempertahankan status. Bahkan JK pada gilirannya membentuk manusia-manusia materialistik yang cendrung hedonis.
Kenapa kita katakan hedonis? Jawabnya sederhana saja. Orang-orang yang memiliki uang, lewat JK ini menguatkan semangat kebendaan (materialisme)-nya. Betapa dengan duit, ia dapat membeli segalanya, termasuk pendidikan. Sementara, oprang-orang yang tidak (kurang) mampu secara finansial, hanya jadi penonton.***

*Kolomnis Berbagai Media

June 23, 2008 - Posted by | Education

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: