Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Generasi Baru yang Menolak Jadi ‘Nyamuk’

Perubahan di banyak negara – termasuk Indonesia – kerap datang dari dunia pendidikan dan orang muda. Lalu, kalau kualitas pendidikan kita kurang menggembirakan, apakah tak mungkin terjadi perubahan?
Problem paling mendasar dalam diri siswa dan mahasiswa kita kini, tidak ketemunya antara apa yang dipelajari dengan apa yang diperlukannya. Akibatnya, di dalam diri mereka terbentuk sikap mental yang tidak membangun motivasi belajar agar dapat mencapai kondisi belajar efektif dan efisien. Kondisi inilah yang menjadi awal kegagalan balajar seorang siswa atau mahasiswa yang pada gilirannya menghambat bahkan menggagalkan perubahan (reformasi)
Keinginan berprestasi siswa dan mahasiswa – yang akan membawa perubahan – didistorsi dengan keadaan kita yang tidak taat asas, tidak taat hukum serta plin-plan. Hasilnya, generasi muda kita memilih “cara gampang” untuk sampai ke puncak sukses, sebagaimana yang dicontohkan senior-senior mereka. Kondidi demikianlah yang membuat siklus ‘nyamuk’ berlaku berkepanjangan.
Wajarlah kalau Noe Vokalis Kelompok Band Letto (KOMPAS, Minggu, 18 Mei 2008 halaman 36) mempertanyakan, bagaimana agar Indonesia dapat dicintai? Kegelisahan mencari bentuk cinta itu muncul dalam diri Noe karena ada semacam lingkaran setan yang berputar sehingga kita tak dapat lepas dari konsdisi yang ada bahkan terhisap di dalamnya.
Kata Noe: “Kalau mencintai seorang perempuan, sedikit mudah mencerna apa yang sebenarnya saya alami: suka bentuk tubuhnya, sikapnya, prinsipnya, kecerdasannya, hatinya, atau gabungan semuanya. Setelah mempelajari dan memperoleh kejelasan latar belakang orang yang saya cintai itu, akan saya tindaklanjuti dengan langkah berikutnya: mendapatkan cintanya, me-maintain cintanya, dan memastikan bahwa output dari semuanya adalah keluarga yang sakinah mawaddah warohmah, kalau perlu, keluarga madani”.
Itu semua frame yang relatif sederhana. Akan tetapi, cinta Noe (generasi muda) kepada Indonesia itu jenis yang mana? Kalau tahap itu belum jelas, mau menindaklanjuti dengan cara bagaimana? Output bagaimana yang diharapkan?
Noe gelisah, orang-orang muda sepertinya kehilangan bentuk: apa yang mau diperjuangkan. Ketidakjelasan bentuk ini memunculkan keraguan, apa manfaatnya berprestasi? Mau jadi apa? Jangan-jangan sekadar jadi-jadian. Boro-boro jadi pahlawan, alih-alih jadi pahlawan kesiangan.
Kegelisahan mencari bentuk ini muncul ketika beribu demo sudah dilakukan, ketika tenggorokan sudah kering berteriak tuntutan, ketika kita bingung sendiri kita baru saja menuntut apa, ketika sudah kehabisan orang yang dituntut untuk melakukan perubahan, ketika kita letih sendiri dan dengan sukarela memilih jadi salah satu dari yang dulu pernah kita benci. Kita terjebak siklus nyamuk. Sepertinya tidak ada pilihan lain: setelah larva adalah pupa dan jika berumur sedikit lebih panjang, kita akan menjadi nyamuk.
Padahal, meski tak gampang, kita (orang muda) dapat ke luar dari lingkaran tersebut. Menolak jadi nyamuk dan ke luar sebagai generasi baru! Inilah sebuah nilai yang harus kita perjuangkan bersama. Siapa yang berhasil menolak jadi nyamuk, sesungguhnya dia adalah pahlawan reformasi; orang yang mempertahankan sebuah prinsip dengan taruhan apa pun, menolak segala bentuk ketidakbenaran dan bertahan dalam kejujuran dengan pola hidup sederhana, paling tidak pada diri sendiri.

Makna Pahlawan
Bertahan pada prinsip, inilah awal perubahan, inilah awal munculnya pahlawan. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI 2001:812) menyebutkan pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberaniannya membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani. Menurut saya, Pahlawan Generasi Baru Indonesia kini adalah orang-orang yang tak terjebak siklus nyamuk.
Seratus tahun yang lalu, 20 Mei 1908, yaitu tanggal berdirinya Budi Oetomo, dikenang sebagai tonggak kebangkitan nasional. Para tokohnya adalah pahlawan. Mereka mampu membuat perubahan karena bertahan pada prinsip hidup. Merefleksikan kebangkitan nasional ke zaman ini, memuncukan pertanyaan yang cliche: setelah seratus tahun, apakah kita sudah benar-benar bangkit?
Saat itu, sebagaimana tertera dalam buku sejarah, ada dua kata kunci yang memicu semangat kebangkitan: eksploitasi dan diskriminasi. Waktu itu diskriminasi termanifestasi dengan adanya kesenjangan: pribumi-nonpribumi. Eksploitasi terutama terdefinisikan (secara kasustik) dengan tindakan Pemerintah Hindia-Belanda yang menggunakan uang orang Indonesia untuk merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya. Hal ini direspons oleh Ki Hadjar Dewantara dengan artikelnya Als ik Nederlander was (seandainya saya orang Belanda), yang membawanya langsung ke penjara. Sebuah simbol perjuangan yang menebalkan polaritas dan membangkitkan semangat bersama.
Sebelum 1928, perjuangan anak bangsa adalah membebaskan pikiran-pikiran sempit kesukuan, kedaerahan dan sejenisnya, sehingga bisa menyelamatkan ide nasionalisme yang digagas para pemuda.
Selanjutnya bagaimana Indonesia dapat lepas dari cengkraman penjajahan Belanda yang telah bercokol selama 3,5 abad. Penjajahan Jepang ternyata memberi insipirasi pada pendahulu-pendahulu kita bahwa bangsa-bangsa di Asia (Timur) bukanlah kelompok underdog. Tonggak sejarah pun terjadi pada 17 Agustus 1945. 17 Agustus ditandai sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia.
Rupanya kemerdekaan yang telah kita peroleh dengan perjuangan meneteskan air mata dan darah, diusik lagi oleh agresi kedua. Maka tonggak sejarah yang terjadi di Surbaya pada 10 November 1945 itu dicatat sebagai Hari Pahlawan yang sudah 62 tahun kita peringati (November 2008 genap 63 tahun).

Era Reformasi
Nikmat pembangunan ternyata tak serta merta menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Rakyat kecil terus termarjinalkan. Penguasa Orde Baru – dengan menghegemoni seluruh lembaga yang ada – akhirnya runtuh juga setelah 32 tahun bercokol (1998). Zaman ini disebut Era Reformasi dengan tokoh-tokohnya pula.
Satu daswarsa sudah reformasi bergulir (bertepatan dengan 100 tahun kebangkitan bangsa), apakah cita-cita rayat Indonesia: adil dalam kemakmuruan, dan makmur dalam keadilan, sudah tercapai? Jawabnya: belum! Kita masih harus berjuang.
Saat ini: tingkat kesuksesan semangat Kebangkitan Nasional akan akurat jika diukur dari dua kata kunci: apakah sekarang masih ada yang namanya eksploitasi dan diskriminasi (negatif)?
Kita semua sadar pentingnya semangat kebangkitan, kita sadar dan ingin keluar dari gebalau. Tapi, terlihat secara nyata dari pengalaman seratus tahun ini bahwa ada sebuah proses (bisa kita sebut lingkaran setan) dan dengan kedua “setan” (eksploitasi dan diskriminasi) ini terpelihara dan justru terkembangbiakkan. Tidak hilang, tapi malah terlestarikan.
Contohnya dalam dunia penddikan: ketidaksadaran akan pentingnya pendidikan (kesejahteraan guru, dana pendidikan tidak maksimal)-pendidik tidak mampu bekerja maksial-murid terdidik dengan tidak maksimal-generasi/SDM lemah-ketidaksadaran akan pentingnya pendidikan, dan seterusnya. Diskriminasi terhadap hak pendidikan membawa degradasi generasi.
Kalau salah satu nilai yang dijunjung tinggi demokrasi adalah persamaan hak berkompetisi untuk setiap individu, padahal modal pendidikan (menjadi terdidik) adalah syarat utama untuk mampu berkompetisi tidak dapat terpenuhi (diskriminasi terjadi saat ada korelasi antara “biaya pendidikan” dan “kualitas pendidikan”), kita harus menyelesaikan persoalan ini dahulu sebelum berhak bicara banyak soal demokrasi.
Contoh lain dalam lalu lintas informasi: informasi tidak lengkap-salah persepsi-salah reaksi-salah sasaran-salah konklusi-disinformasi/informasi tidak lengkap. Eksploitasi disinformasi akan memperpanjang disinformasi, dan secara langsung memperpanjang kesempatan eksploitasi.
Beberapa generasi terlewati, tetap dalam lingkaran dan tertunggangi oleh stigma-stigma ini kemudian melahirkan banyak masalah turunan yang begitu luas, akut, dan semakin sulit teridentifikasi akar masalahnya (apalagi pemecahannya). Belum ditambahi dengan budaya kita yang lebih suka menggariskan kebenaran dari norma dan bukan nilai.

Generasi Mandiri
Telur-larva-pupa-nyamuk-telur-larva, itulah lingkaran hidup nyamuk. Memberantas nyamuk dibutuhkan cara yang efektif untuk memotong lingkaran hidupnya sehingga tidak bisa berputar secara komplet. Begitulah yang kita pelajari di SD.
Sepertinya tidak terlalu far fetched kalau kita mengadopsi cara berpikir yang sama. Dibutuhkan sebuah metode untuk memecahkan lingkaran setan ini. Masalah utamanya ternyata adalah ketidaksadaran posisi kita sebenarnya ada di mana. Mungkin sebenarnya kita sudah masuk di lingkaran tersebut. Mungkin lebih santun disebut: generasi saya, generasi muda. Sebentuk generasi larva yang terdesain sedemikian rupa untuk menjadi nyamuk di masa depannya.
Kalau saja semua larva memutuskan untuk tidak mau menjadi bagian dari lingkaran hidup nyamuk. Kalau saja generasi larva ini beramai-ramai mendeklarasikan bahwa dirinya bukanlah larva dan tentu saja tidak menganut sifat-sifat “kenyamukan”. Demo kali ini bukanlah pawai ribuan orang dengan tuntutan-tuntutan yang diteriakkan. Demo yang ini adalah menyatakan jati diri dan sikap bahwa kita bukanlah larva. Kita adalah generasi baru dengan sikap dan pemikiran yang baru. Generasi ini menolak menjadi nyamuk, generasi ini generasi yang mandiri dan memilih menjadi garuda. Seharusnya dengan sikap dan pemikiran antitesis dari permasalahan selama ini.
Adalah dibutuhkan sebuah generasi mandiri (bukan hanya kontinuasi dari generasi sebelumnya) yang mau dan mampu mengubah dirinya sendiri, dan lepas dari lingkaran-lingkaran setan. Tak perlu menuntut yang sudah terlanjur jadi nyamuk untuk berubah menjadi sapi. Tapi, kita pastikan kita tidak akan menjadi nyamuk, melainkan menjadi generasi garuda yang sakti.
“Tidak mudah” itu pasti. “Tidak mungkin” itu salah persepsi. Deklarasi, petisi, hanya salah satu cara untuk memberi “bendera” pada kebersamaan. Deklarasi menjadi mentah jika ia hanya menjadi simbol. Deklarasi akan menjadi sangat kuat bila ia menjadi ruh dari sebuah tekad yang ditanggungjawabi dalam bentuk sikap/tindakan secara bersama-sama. Tindakan adalah refleksi dari sikap. Sebelum ada tindakan semestinya datang dari pemikiran yang cermat, bersih dan obyektif. Sebuah pemikiran semestinya dilandasi sebuah nilai (tidak selalu norma) yang kita sepakati bersama sebagai sebuah kebenaran. Tanpa ada pernyataan nilai yang disepakati dan diusung bersama, ruh tindakan tidak akan hidup cukup panjang untuk membuat sebuah perubahan.
Kalau di jaman Orde Baru, para vokalis yang ditahan dinamakan tahanan politik (tapol) atau narapidana politik (napol). Di zaman reformasi para vokalis akan dicari-cari kesalahannya, kalau tidak dapat maka diciptakan atau dijebak sehingga berdasarkan undang-undang dapat ditahan sebagai penjahat. Apakah ini kelak tidak akan menghilangkan jati diri kita sebagai sebuah bangsa dengan menjadikan calon pemimpin mereka sebagai penjahat. Yang saya bingung, siapa yang mengajari ini? Ayo siapa berani ke luar dari siklus nyamuk? ***

Wartawan SUARA MASA

June 24, 2008 - Posted by | Life Style

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: