Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Makna Sukses

Sekali waktu seorang teman bertanya pada saya tentang makna sukses. Saya jawab, tiap orang dan komunitas memaknai sukses dengan cara masing-masing. Sedangkan buat saya, sukses adalah bila berhasil menuntaskan program-program kerja yang disenangi banyak orang dan tidak ada pihak yang terluka.
Seorang rekan saya yang penulis, juga pernah ditanyai tentang makna sukses, dia menjawab dengan sangat sederhana. “Sukses bagi saya, apabila tulisan-tulisan yang saya buat, dimuat di media, dicetak jadi buku dan dibaca orang banyak serta ditanggapi,” tutur rekan tersebut.
Demikianlah, tiap orang memiliki makna sukses yang berbeda dan sah-sah saja jika itu ditempuh dengan cara-cara fair. Yang tidak sah dan kerap menjadi masalah, keinginan sukses (berhasil) tadi diperoleh dengan menghalalkan segala cara. Misal, keinginan sebagai pemenang pada Pilkada serta Pemilu yang dilakukan dengan cara-cara kampanye hitam, serangan fajar, politik uang, dan sejanisnya.
Padahal sesungguhnya, bukan kemenangan yang lebih perlu, melainkan proses mencapai kemenangan, mencapai sukses. Selanjutnya bagaimana mengisi kemenangan untuk membangun bersama rakyat, bukan untuk diri sendiri atau kelompok.

Murid si Tukang Sihir
Ironisnya, banyak di anatara kita yang tak percaya dengan proses, justru tertumpu pada hasil. Apa yang terjadi, semua dilakukan dengan cara simsalabim. Orang-orang yang suka simsalabim ini menurut Gothe disebut zanberlehrning, murid si tukang sihir.
Kita semua sudah dapat menduga, apa yang akan dilakukan oleh murid si tukang sihir ini. Ia akan ‘menyihir’ orang-orang dengan sesukanya, tanpa memperhitungkan efek dari sihirnya. “Maka, jadilah kau onta, babi, monyet, anjing,” katanya.
Ya, jadi-jadian, hanya itulah kemampuan murid si tukang sihir, bukan menbuat jadi sebenarnya. Jadi-jadian ini merupakan implementasi dari sikap manusia yang tak percaya pada proses. Sehingga semuanya ditempuh dengan jalan pintas, potong kompas. Manusia yang tak percaya proses ini sesungguhnya hanya menghilangkan kemanusiaannya saja dan menuju apa yang disebut “orang-orangan” bukan orang sebenarnya. Apa yang dapat kita harapkan dari “jadi-jadian” atau “orang-orangan” tersebut?
Implikasi dari jadi-jadian dan orang-orangan ini sudah kita rasakan dewasa ini. Maaf, ketika kita berhadapan dengan oknum polisi, misalnya, pakaiannya memang aparat, tetapi isi di balik pakaian itu adalah maling. Ketika kita berhadapan dengan dokter, misalnya lagi, ternyata di balik baju putih-putihnya, tersembunyi sosok drakula pengisap darah dan nyawa.
Jujur saja, “menjadi” (to be) itu penting, tetapi yang lebih penting dari sekadar “menjadi” adalah “proses untuk menjadi”. Artinya, melihat keberhasilan seseorang, janganlah hanya pada kekiniannya saja. Di balik keberhasilan itu, sangat boleh jadi ada keringat, air mata, bahkan mungkin darah.

How To Be
Justru itu, saya sangat tertarik membicarakan makna to be yang melingkupi kemanusiaan manusia karena dewasa ini ada kecenderungan kita abai pada proses demi kepentingan sesaat, kepentingan pribadi atau kelompok.
Ketika orangtua bertanya pada anaknya, “kelak kau mau jadi apa”? Si orangtua akan sungguh bangga bila dijawab: “menjadi dokter”, “menjadi pilot”, “menjadi presiden” dan profesi-profesi lainnya yang bernuansa kesenangan materi pula.
Lalu, ketika seorang anak menjawab: “aku mau jadi manusia saja”? Tentu orangtua akan tercengang-cengang mendapat jawaban demikian. Orangtua kembali akan melontarkan pertanyaan di dalam hati, maupun secara verbal: “bukankah kau sekarang sudah menjadi manusia!” Benarkah si anak sudah menjadi manusia sebenar manusia?
Jujur saja, menjadi dokter itu penting, tetapi yang lebih penting adalah “bagaimana proses utuk menjadi dokter”. Menjadi polisi itu penting, tetapi yang lebih penting adalah proses untuk menjadi polisi. Kalaulah proses untuk “menjadi dokter” dan “menjadi polisi” dilalui dengan benar, sangat boleh jadi, kelak pribadi yang menjalani profesi tersebut dalam kebenaran pula.
Jika seseorang sudah ‘menjadi’ dengan proses yang baik dan benar, maka akan dilakoninya dengan baik dan benar pula. Sang dokter akan bertangung jawab dengan segala kemungkinan yang kelak terjadi dalam praktik dokternya. Si polisi, juga demikian, tidak akan dilakukannya hal-hal yang tak boleh dilakukan. Kalau ia menangkap penjahat, memang sebenarnyalah yang ditangkap itu penjahat, bukan orang yang “digiring untuk menjadi penjahat”
Kalau kelak si dokter melakukan malpraktik ketika mengadakan pengobatan – misalnya – ia tidak akan ragu mengatakan telah melakukan kesalahan diagnosa, memberi serum atau lainnya, sehingga merugikan/mengorbankan pasien. Ia pun akan menanggungjawabi seluruh konsekwensi logis dari kesalahan tersebut, tidak berusaha untuk menutup-nutupinya.
Demikian pula, jika ia polisi, tidak akan pernah ragu menghadapi segala kemungkinan dari tuntutan tugas. Misalkan terjadi salah tangkap, si polisi yang benar-benar polisi tidak akan ragu diprapradilankan, ia akan mempercayakan segala sesuatunya pada proses hukum.
Kenapa demikian? Bagi terminologi ilmu pengetahuan, kesalahan bukanlah sesuatu yang naif. Justru, banyak tokoh-tokoh berhasil tingkat nasional maupun dunia, belajar dari kesalahan-kesalahan mereka, yang dengan kesalahan itu terus memperbaiki diri.
Bila proses “menjadi dokter”, “menjadi polisi” dilalui dengan kongkalikong, KKN, dan sejenisnya, niscaya ketika ia melakukan kesalahaan – malpraktik atau salah tangkap – kasus itu akan ditutupi sedemikian rupa, meskipun dengan susah payah. Apa jadinya? Pasien yang korban, tinggallah jadi korban sia-sia. Apa yang terjadi terhadap orang yang salah tangkap, tetaplah tinggal korban sia-sia, sebagai mana kasus Sengkong dan Kerta beberapa tahun lampau di Jakarta.

Jadi-jadian
Tanpa sebuah proses yang benar dan alamiah sesuai prosesdur yang berlaku, seseorang memang bisa “menjadi” apa saja, sesuai dengan keinginannya, tetapi percayalah, kelak ia akan hanya “jadi-jadian” saja. Kalau dokter, ia akan jadi dokter jadi-jadian (palsu). Kalau sarjana, kelak ia juga akan jadi sarjana jadi-jadian (palsu), ijazah ada tetapi tidak punya kualitas sebagaimana yang termaktub dalam ijazahnya. Kalau ia jadi polisi sesungguhnya ia akan hanya jadi polisi-polisian, berpakaian polisi tetapi berotak dan berhati maling, preman dan sejenisnya. Kalau ia jadi entrepreneur (wirausaha) juga akan jadi eterpreneur yang jadi-jadian (palsu) pula, dengan menghalalkan segala secara untuk mencapai apa yang diinginkannya.
Sikap kita yang cendrung berbeda dengan aturan, inilah penyebab hilangnya semangat berprestasi di kalangan generasi muda: siswa, mahasiswa, dan pemuda. Mereka lebih cendrung menggunakan cara-cara instan untuk memperoleh apa yang dinginkan, bukan proses perjuangan. Padahal, di tangan generasi muda inilah masa depan bangsa.

Untuk apa berpayah-payah
Kondisi-kondisi seperti ini menghilangkan semangat berprestasi di kalangan siswa, mahasiswa serta pemuda kita. Untuk apa berpayah-payah berprestasi kalau semuanya dapat dicapai dengan kongkalikong. Akibat luasnya, kita pun terus-menerus jadi bangsa yang tertinggal.
Secanggih apa pun metode dan cara belajar yang efektif serta efisien, jika siswa dan mahasiswa merasa belajar merupakan kewajiban bukan kebutuhan, hasilnya tidak akan maksimal. Boleh jadi malah akan sia-sia.
Semangat berprestasi didistorsi dengan keadaan kita yang tidak taat asas, tidak taat hukum serta plin-lan. Hasilnya, generasi muda kita memilih “cara gampang” untuk sampai ke puncak sukses, sebagaimana yang dicontohkan senior-senior mereka.
Membangun sistem yang baik harus dimulai dari diri sendiri. Berani mengatakan “tidak” ketika seseorang menawarkan upeti untuk potong kompas. Tulisan ini ingin mendorong segenap komponen bangsa untuk berkenan membuka diri terhadap perubahan, agar terbangun sistem dan perangkat hukum yang baik dan pada akhirnya moralitas yang baik.
Sistem yang baik hanya dimungkinkan bila kita percaya pada proses untuk menjadi, bukan jadi-jadian. Kalau segala sesuatunya dapat bayar; jadi polisi dapat dibayar, jadi dokter dapat dibayar, jadi hakim dapat dibayar, jadi sarjana dapat dibayar, apa mungkin akan lahir manusia sebenar manusia yang berotak seperti Einsten dan berhati seperti Sidharta Gautama? ***

June 25, 2008 - Posted by | Life Style

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: