Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Generasi Semi

Semi adalah sebuah kata, yang bila dilekatkan dengan kata lain dapat berkonotasi baik dan jelek. Andai kata ‘semi’ dilekatkan dengan kata ‘musim’ maknanya akan jadi indah: musim semi, sebuah suasana yang indah dan nyaman.
Manakala dilekatkan dengan kata ‘generasi’, maka maknanya jadi tidak baik: generasi semi, manusia perbatasan, manusia setengah.
Manusia semi ini adalah orang-orang yang serba tanggung. Jika dipandang dari sudut budaya, orang semi adalah manusia yang tidak punya akar budaya yang kokoh: tidak ke Barat, tidak juga ke Timur. Jika dipandang dalam konteks keahlian, maka manusia semi adalah orang-orang yang setengah pandai.

Enam Tingkat
Keahlian itu ada enam tingkatan: 1. pengetahuan, 2. pemahaman, 3. penerapan, 4. analisis, 5. sintesis, 6. penelitian terbuka.
Pada awal masa belajar, terlebih dahulu harus dikuasai atau diketahui unsur-unsur dasar pengetahuan dalam bidang ilmu itu. Misalnya saja, semua orang yang mempelajari geometri harus paham terlebih dahulu apa yang dimaksudkan titik, garis lurus, bidang datar dan ruang.
Setelah itu dia harus memahami bahwa sebuah garis lurus ditentukan letaknya pada bidang oleh dua titik. Sebuah bidang ditentukan oleh titik yang tidak segaris. Selanjutnya ia dapat menerapkan pengetahuannya berdasarkan pemahaman untuk menjelaskan bahwa dua garis lurus yang berpotongan pada satu titik menentukan sebuah bidang datar.
Proses mengetahui lebih mudah daripada proses mamahami. Sedangkan proses memahami lebih mudah dari proses menerapkan pengetahuan. Ketiga proses ini adalah pengetahuan minimum yang harus dikuasai setiap siswa di kelas. Siswa yang tidak mencapai peringkat pemahaman, sesungguhnya tidak memenuhi syarat duduk di kelas itu.
Kurikulum kita yang menguji siswa dengan pilih ganda, hanya mampu pada fase penerapan. Ini tentu saja fase semi. Jadi, janganlah heran kalau siswa (SMA sederajat), jika tamat kelak hanya akan mampu jadi generasi semi semata.
Kalau kita memang ingin menyatakan bahwa uji pilih ganda sama bagusnya dengan uji esai untuk menilai kemajuan anak didik, marilah kita berlapang dada, apabila dalam kenyataannya kebanyakan lulusan SMA sederajat dan PT kita hanya mampu menjadi konsumen ilmu pengetahuan.
Karena hanya mampu sampai pada tahap penerapan atau pemahaman saja tentu nilai-nilai yang masuk juga tidak dianalisis apalagi penelitian terbuka.
Andai sebuah produk budaya asing melakukan penetrasi, niscaya diserap dan diterapkan tanpa perlu tahu akarnya. Ya, lulusan SMA sederajat kita hanya memandang rumah bangunan Barat dari luar saja, tanpa melihat apa isi rumah itu.

Murid Si Tukang Sihir
Untuk orang semi ini Gothe pernah bertutur zanberlehrning yang dapat diartikan ‘murid si tukang sihir’. Kita bisa bayangkan apa hasil kerja dari murid si tukang sihir ini. Ia tentu akan seenaknya mengucapkan: simsalabim, jadilah kau onta, kakaktua, monyet, babi, anjing dan sebagainya, tanpa memperhitungkan efek dari ‘simsalbim’ itu.
Kalau orang yang tidak padai sama sekali, itu tidak berbahaya, karena ia tidak mungkin kita suruh untuk bekerja atau memegang suatu jabatan. Tetapi jika orang yang setengah pandai, sangat berbahaya sekali. Jika tidak diberi kesempatan bekerja atau memegang jabatan, maia ia akan berteriak, meng-‘aum’ bagaikan harimau yang kelaparan. Padahal, jika disuruh bekerja atau memegang jabatan, semua akan jadi kacau dibuatnya.
Andai boleh berumpama sebuah pekerjaan sama dengan mobil, lantas manusia semi disuruh untuk mengendarai. Apa yang terjadi? Ia akan membawa mobil dan penumpangnya ke jurang, Karena ia tidak paham rambu-rambu lalulintas, ia tidak tahu saat mana boleh tancap gas dan saat mana pula harus memijak rem. Ia tidak tahu bagaimana berzikzag agar mobil tidak terbalik dan terpeleset di saat gawat.
Bahaya lain, manusia semi ini tidak mau diajari, karena ia merasa sudah pandai, padahal hanya setengah saja: setengah pandai.

Positif Plus
Memang zaman berubah, beregeser, begitu juga dengan ukuran tata nilai. Ini tenutu saja membuat perubahan pula ada manusianya, pada generasinya. Sekarang Indonesia sudah memasuki generasi pascanasional, tidak lagi hanya berwawasan nasional, tetapi internasional. Dalam hubungan interaksi itu, pola budaya luar pun ‘menerobos’ Indonesia, menerobos mental manusiannya. Maka lahirlah manusia ‘Timur-Barat’.
Jika penggabungan nilai-nilai itu, yang positif dengan yang positif, tentu hasilnya positif plus: manusia bermutu yang dapat memadukan hati nurani (Timur) dengan rasionalitas (Barat). Tapi jika yang terjadi sebaliknya, nilai-nilai Timur yang negatif digabung nilai-nilai negatif dari Barat, tentu hasilnya negatif plus: manusia bejat, mau menang sendiri.
Maka perkosaan ala sum kuning, penipuan, pembunuhan, hamil di luar nikah, bukan sesuatu yang memalukan, bukan sesautu yang menakutkan, tetapi merupakan suatu npetulangan yang mengasyikkan. Nauzubillah.
Perubahan moral yang telah melanda kota-kota besar di Indonesia akibat proses humanisasi melawati tahap emansipasi. Dalam proses itu, orang tak lagi berpegang teguh pada norma-norma mporal yang ada, Tetapi senaliknya, mereka mencar anlternatif sesuai kebutuhan perkembangan pribadinya.
Jadi, hubungan seksual pranikah merupakan indikator dari pembernotanakan moral. Ini suatu petunjuk bahwa kita sudah membutuhkan moralitas baru. Moralitas baru yang dsibutuhkan bukan bersifat normatif, melainkan lebih menekankan tangung jawab pribadi, lebih rasional dan lebih mandiri.
Kita butuh generasi yang sadar, yang tahu mau ke mana ia, sehingga fese pascanasional dapat kita jalanani dengan tidak banyak menajatuhkan korban, akibat ulah generasi semi ini. Bagaimana Pak dan Ibu Guru?

Peminat Masalah Sosial Budaya
Tinggi di Medan

June 26, 2008 - Posted by | Life Style

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: