Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Scribo er Gesum

Ada karena Menulis
Sedikitnya ada tiga alasan kenapa orang menulis. Untuk mencari uang, mengejar populeritas, dan sebagai kebutuhan. Jika alasan pertama dan kedua mendasari seseorang menulis – meskipun kurang pada tempatnya – tetapi sah-sah saja. Mengapa tidak, dengan menulis, seseorang akan mendapatkan honor setelah tulisannya dimuat (terbit). Seiring dengan itu, ia pun akan dikenal (populer) pula.
Sebaiknya, kita menulis karena kebutuhan. Scribo er gesum, inilah landasan yang paling baik dalam dunia tulis-menulis (karang-mengarang). Seorang filsuf pernah bertutur cogito er gesum (aku ada karena aku berpikir), maka bagi para penulis yang menjadikan dunia tulis-menulis sebagai kebutuhan, ia akan merasa ada – dalam pengertian eksistensialis – karena ia menulis (scribo).
Ketika seseorang merasakan menulis adalah kebutuhan, maka seusai menulis – mendapat honor atau tidak – ia akan merasakan kepuasan. Karena – dengan menulis – seseorang dapat menyatakan diri, pikiran, dan perasaan tentang sesuatu. Di samping itu, menulis juga merupakan salah satu ibadah. Selesai menulis tentang sesuatu hal, seseorang merasa puas, karena telah memberikan ‘persembahan’ kepada diri, orangtua, masyarakat serta bangsanya.
Selesai menulis tentang sesuatu hal, tentu akan mendapatkan kepuasan, karena telah memberi ‘persembahan’ kepada diri, orangtua, masyarakat, juga bangsa.
‘Puas’ bagi orang kreatif adalah ruang sesaat untuk berkontemplasi agar lahirnya karya-karya berikutnya. Bila puas bermakna kemapanan yang identik dengan stagnasi, niscaya orang kreatif tak kan pernah mengatakan atau merasa ‘puas’ bagi karya-karya yang pernah ‘lahir’ atau ‘dilahirkan’.
Pada hakekatnya ‘perburuan’ bangsa manusia terhadap hidup tak lebih adalah untuk meninggalkan jejak bahwa dirinya pernah ada di dunia ini. Bagi seseorang yang merasakan bahwa menulis merupakan kebutuhan, jejak yang indah itu adalah tulisan (ilmu pengetahuan). Karena itulah ia menulis. Kalau dulu filsuf bertutur cogito er gesum (aku ada karena aku berpikir), bagi penulis adalah scribo er gesum (aku ada karena aku menulis).

Sejak SLTA
Penulis-penulis terkemuka – baik tingkat dunia maupun nasional serta regional –umumnya telah menggeluti dunia tulis-menulis sejak di bangku SLTA. Bahkan ada yang lebih awal lagi, sejak SLTP. Memang ada juga di antara penulis kondang itu, mulai menulis sejak di bangku kuliah atau setelah jadi sarjana. Maka, beruntunglah orang-orang yang telah mulai menulis (mengarang) sejak usai masih belasan tahun. Sebab, teramat panjang baginya waktu untuk terus memperbaiki diri.
Apakah yang dapat ditulis oleh seorang anak remaja setingkat SLTA? Banyak hal yang dapat ditulis oleh anak remaja, sepanjang ia senang membaca dan mengamati kondisi sosial masyarakat. Di samping masalah kemiskinan yang ada di seputar kita dan mungkin akan terus ada sepanjang perjalanan sejarah bangsa manusia, masalah lain yang akan terus ada dan mungkin tak kan pernah mati – bahkan tetap akutal sepanjang masa – adalah cinta dengan segala tetek bengeknya.
Kemiskinan yang memang akrab dengan penduduk negeri ini, dan bangsa-bangsa lain yang telah maju sekalipun akan terus menjadi problematika, parodi, bahkan mungkin ironi dalam sejarah peradaban manusia. Kemiskinan, ini adalah persoalan yang kait-mengait dengan persoal-persoalan lainnya.
Pertanyaan bodohnya kira-kira begini: kenapa mesti ada orang miskin. Nah, jawaban bodohnya juga kira-kira begini: karena ada orang kaya. Karena ada orang yang disebut ‘kaya’, maka kita pun bangsa manusia mengenal pula kata ‘miskin’. Lalu, apakah sesederhana itu persoalannya?

Tidak Hitam-putih
Sebenarnya tidak hitam-putih seperti itu. Ketika kita berhadapan dengan fenomena kemiskinan, ketika itu pula sebenarnya kita berhadapan dengan banyak hal. Apakah itu kebodohan, kemalasan atau karena struktur yang membuat orang-orang tak dapat bangkit dari kemiskinan. Atau kemiskinan bersebab dari kultur (budaya) yang membelenggu. Nah, ini adalah tema yang tak pernah kering.
Begitu juga dengan persoalan cinta. Begitu kita berhadapan dengan kata ‘cinta’, dalam pada itu, kita pun akan berhadapan dengan banyak hal. Apakah cinta antara lelaki dan wanita, cinta anak kepada orangtuanya, atau cinta anak bangsa kepada negerinya dan lain sebagainya. Singkatnya, cinta dan implikasinya adalah persoalan, adalah tema.
Cinta anak bangsa terhadap negerinya, merupakan tema sentral dari zaman ke zaman, bahkan saat ini untuk Indonesia, terkesan makin krusial. Betapa tidak, kerusakan negeri ini berawal dari kurang (hilang)-nya rasa cinta kasih anak bangsa kepada negeri yang indah, negeri beribu pulau ini
Kemiskinan dan cinta, dua persoalan yang kerap menyesaki dada para penulis. Bagai air, ia membutuhkan tempat mengalir. Kadang-kadang air itu datang bagai bah, sehingga terkesan tak mempedulikan apa yang ada di hadapannya. Pokoknya harus mengalir, harus menulis. Titik.
Tapi ada kalanya, air itu datang perlahan, bahkan dengan irama yang lambat. Ketika itu terjadilah semacam ‘perburuan’ untuk mencari dari mana sumber air itu. Ini adalah perjuangan. Perjuangan untuk menangkap momen sehingga tak kehilangan makna.

Boleh Menulis
Seseorang yang begitu berhasrat dengan dunia tulis-menulis, tentu akan berusaha mempelajari tentang teori dan metoda menulis. Ini tidak lain agar apa yang ditulis dan dipaparkan, tidak centang-prenang. Juga, harus tahu aturan dan etika menulis. Harus tahu apa yang tidak boleh ditulis seperti mempertentangkan masalah SARA dan memicu (memprovakasi) untuk membuat onar serta sejenisnya.
Secara sederhana, dapat disebutkan bahwa jenis-jenis karangan itu: eksposisi, persuasi, deskripsi, argumentasi dan narasi. Metodanya juga sederhana: induktif dan deduktif. Nah, semua orang bisa mempelajarinya. Karena itu pula, semua orang boleh serta dapat menulis dan itu dilindungi oleh undang-undang. Undang-undang Dasar ‘45 Pasal 28 menjamin masyarakat Indonesia – siapa saja – untuk mengeluarkan pikiran dan pendapat.
Lalu, kalau ada pihak-pihak yang merasa bahwa tulisan-tulisan seseorang mengenai diri mereka, sesungguhnya itu semua dalam kerangka normatif dan tataran hukum yang dilindungi undang-undang. Silahkan saja membuka polemik terhadap tulisan-tulisan tersebut. Berbeda pendapat, berpolemik itu halal dan sah serta dilindungi undang-undang.
Kegiatan tulis-menulis di samping dijamin oleh pasal 28 UUD 45 juga merupakan peran serta masyarakat dalam mewujudkan dan mengembangkan kemerdekaan pers. UU No 40 Tahun 1999 Bab VIII Pasal 17 ayat (1) berbunyi: Masyarakat dapat melakukan kegiatan untuk mengembangkan kemerdekaan pers dan menjamin hak memperoleh informasi yang diperlukan.

Persoalan Besar
Ketertarikan banyak penulis dengan ikhwal kemiskinan dan cinta anak bangsa kepada negerinya, tidak lain bersebab kedua tema itu merupakan persoalan besar dari bangsa-bangsa di belahan bumi mana saja, termasuk Indonesia. Kemiskinan, ini merupakan lingkaran kebodohan, kemalasan, struktur dan kultur.
Kemalasan, ini menyangkut motivasi, yang sesungguhnya semua kita harus mengambil peranan agar bangsa ini mau bergiat memperbaiki nasib tiap individu.
Struktur, ini merupakan tugas ekseuktif (birokrat), legeslatif dan ahli-ahli ekonomi untuk mendorong terciptanya struktur yang emansipatif. Kalau struktur yang dibangung tak berpihak kepada masyarakat luas, tentu berimplikasi buruk kepada kehidupan rakyat. Sebagai contoh dapat dilihat dari pergeseran model pembangunan ekonomi sektoral dan regional.
Awalnya, model sektoral dan regional ditujukan untuk memperkuat sistem perekonomian melalui pembangunan industri manufaktur, kemudian digeser pemerintah dan pengusaha menjadi aglomerasi “industri properti” bagi kepentingan masyarakat kelas menengah atas. Akibatnya, terjadi ketimpangan pembangunan, yang ditandai dengan “terpinggirnya” masyarakat kelas bawah.
Dalam perjalanannya, pelapukan struktur ini bersinergi dengan hasil negatif pembangunan lainnya, seperti penyalahgunaan fungsi birokrasi dan institusi militer untuk mempertahankan sistem poltik yang sentralistik, otoriter dan tertutup. Ini menimbulkan kerugian yang harus ditanggung masyarakat pascarezim sentralistik-otoriter. Seperti rendahnya kesadaran hukum, hancurnya sistem komunitas di beberapa daerah, dan penggunaan otot dalam berpolitik yang melahirkan kekerasan massa.
Sedangkan kultur, ini berkaitan dengan kebiasaan (budaya) dari tiap etnis yang ada di Indonesia. Ini tentu tugas dari pemuka-pemuka masyarakat, budayawan dan tokoh-tokoh agama untuk memberi kesadaran (pencerahan) bahwa budaya-budaya (kebiasaan-kebiasaan) usang yang menghambat pembangunan (kemajuan) harus perlahan-lahan ditinggalkan.
Nah, semua persoalan kemiskinan tersebut dapat ditulis dengan perspektif ekonomi, politik, hukum, agama, budaya dan lain sebagainya.

Harus Memilih Bentuk
Begitulah, ada ide yang dapat dituangkan dalam bentuk puisi, ada pula yang harus dengan cerpen, naskah drama atau novel. Juga, ada ide yang hanya pas dituangkan dalam bentuk esay atau artikel. Meskipun esay dan artikel belum (tidak) dikelompokkan dalam karya sastra, sesungguhnya dua bentuk tulisan ini bisa jauh lebih indah dibanding karya sastra, terutama esay. Bahkan tak jarang, esay merupakan puisi panjang yang sarat makna dan penuh dengan nilai-nilai estetika.
Sartre pernah bertutur, seseorang disebut pengarang bukan karena ia telah mengatakan sesuatu, tetapi karena ia telah memilih untuk mengatakan sesuatu dalam satu bentuk tertentu. Pengertiannya bahwa seseorang itu dikatakan pengarang bila ia telah memiki medium untuk mengatakan sesuatu (ide atau intuisi). Jadi, kemampuan untuk memilih medium inilah yang mengantarkan seseorang, layak atau tidak disebut pengarang. Justru itu – meski tidak mutlak – teori sangat diperlukan.

Scribo er Gesum
Di era kesejagatan ini, di mana dunia dapat dihubungkan satu sama lain lewat teknologi telekomunikasi – bahkan kini telah sampai pada fase virtual (tanpa kabel) – serasa kebutuhan menulis pun makin terasa urgensinya. Teknologi telekomunikasi dewasa ini tidak lagi hanya menghasilkan voice juga audio, video, teks dan gambar bergerak. Justru itu, para penulis atau pengarang harus lebih kreatif.
Yang pasti – di mana penduduk bumi sudah melampaui lima miliar lebih – menulis sebagai kebutuhan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Kalau dulu filsuf bertutur cogito er gesum (aku ada karena aku berpikir). Maka sebaiknya para penulis (pengarang) berpijakan kepada scribo er gesum (aku ada karena aku menulis).
Bagaimana tidak, dengan penduduk Indonesia yang sudah melampaui 210 juta jiwa, apakah cara yang pas untuk mengatakan kehadiran kita, keberadaan kita? Jawabnya adalah : menulis. ***
Disampaikan di Taman Budaya
Sumatera Utara (TBSU)
15 April 2008

June 27, 2008 - Posted by | Life Style

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: