Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Munir, Valent, dan Asketisme

 

Sejarah walaupun yang acak-acakan, tulis Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir-nya (Tempo 13 Juli 2008 hal 130) tidaklah hadir dengan sia-sia. Pribadi-pribadi serupa Munir, Valent dan lainnya yang hadir dengan perjuangan membawa perubahan atau tidak, juga tidak sia-sia.

Kalaupun akal budi tak kunjung menang, seperti dicitakan Hegel, tak berarti manusia takluk. Kalaupun kebebasan tak berhasil terbentang penuh di dunia, seperti diperhitungkan Marx, tak berarti ia tak layak diperjuangkan.

Pada titik inilah, menurut Goenawan, ”mikropolitik” punya makna ”militansi dari aksi yang terbatas”. Ia bukan rencana mengubah semesta berdasarkan wajah sendiri. Tapi ia tak takut kepada yang mustahil.

Dan, harapan? Bukan itu soalnya. Politik bisa dengan harapan, bisa tidak. Sebab ia perlawanan yang membuat hidup kita di sebuah tempat, di suatu waktu, bersama yang lain – tak sia-sia. Kematian Munir, bukanlah sebuah kesia-siaan. Komitmennya memberi pengaruh baik bagi jalan yang lurus.

Valent, ’dibunuh’ hak-hak sipil (perdata)-nya oleh orang-orang tertentu, juga dengan memanfaatkan fasilitas negara. Misal, masalah berkaitan dengan izin, kalau staf yang urus, kerap gagal atau diperlama-lama. Ruag geraknya terus dipantau. Untuk makan siang saja pun selalu diikuti oleh oknum-oknum bertubuh atletis dan bertampang seram. Pernah juga sampai sepuluh orang berdiri di depan kami (Hidayat Banjar, Valent dan seorang rekan) pada waktu makan malam, memoto dan melihat-lihat kami makan. Tidakkah ini semacam teror mental?

Kasus serupa Munir dan Valent di era keterbukaan dan kesejagatan ini merupakan sejarah muram bagi Indonesia. Terhadap kasus Munir, meski Suciwati (istri Munir), orang-orang yang berjuang agar kasus ini terungkap tuntas, dan siapa saja yang cinta keadilan mengalami proses antiklimaks, ketika Pollycarpus dibebaskan, namun kini titik terang mulai kelihatan.

Ketika itu, banyak yang pesimis – termasuk saya – kasus Munir akan dapat membongkar konspirasi jahat. Ketika Pollycarpus dibebaskan, kita berasumsi, kasus pembunuhan Munir kembali ke titik nol, kembali jadi misteri.

Ternyata, kabinet SBY-JK tidak mau main-main dengan penegakan hukum. Meski belum pasti tuntas, simpul itu mulai terlihat, setidaknya setelah Muchdi menyerahkan diri. Polisi menetapkan Muchdi Purworandjono sebagai tersangka baru kasus pembunuhan Munir. Ia ditahan dan sejumlah bukti disiapkan: hubungan teleponnya dengan Pollycarpus, surat penugasan intelijen, juga kesaksian bawahannya. Kita berharap kasus Valent juga dapat terungkap secara tuntas, dan membawa aktor intelektual ke proses hukum.

 

Keterlibatan Oknum BIN

Dari pemberitaan Majalah Tempo (Sabtu 29 Juni 2008), jika benar oknum-oknum BIN (Badan Intelijen Negara) terlibat pembunuhan Munir, betapa sangat menakutkannya negeri ini. Pertanyaannya kemudian, apakah ini sebuah operasi intelijen resmi atau penyalahgunaan wewenang oleh kelompok jahat di negeri ini?

Di negara modern, lembaga intelijen seperti BIN dirancang sebagai tempat berkumpulnya para patriot sejati. Mereka bertugas mengumpulkan dan menganalisis informasi dari semua penjuru dunia untuk kepentingan negera, bukan justru untuk menghabisi rakyat sendiri.

Jabatan yang diemban Muchdi di BIN memang memungkinkan untuk melakukan penyalahgunaan wewenang. Ia menjadi deputi penggalangan, yang dalam pengertian di era Orde Baru bertugas menjalankan berbagai operasi rahasia, kalau perlu melanggar hukum, demi tujuan tertentu. Operasi seperti ini, termasuk pembunuhan memang jamak dilakukan negara otoriter untuk mempertahankan kekuasaan pemerintah dari oposisi di dalam negeri. Di negara demokrasi, operasi seperti ini hanya boleh dilakukan di negara lawan.

Kalau Munir dihabisi secara fisik, di Sumut, seorang sahabat saya yang bernama dr Robert Valentino Tarigan SPd, Pimpinan BT/BS BIMA Indonesia berpusat di Jalan Bantam No 6 A Medan yang juga Direktur LSM Pelindung Bumimu ’dihabisi’ hak-hak perdata-nya. Ia diteror dengan berbagai modus hanya karena upaya menyelamatkan hutan bersama rakyat.

Penjajakan kerap dilakukan terhadapnya dengan terang-terangan, mobilnya pernah ditabrak dari belakang oleh oknum Kapolres salah satu Polres di Sumut, karyawannya diiming-imingi – kalau tak mau – juga diteror agar jadi pengkhianat, bahkan ada yang ditabrak hingga cidera, lokasi bimbingannya  pada 28 Oktober 2005 malah sekitar pukul 23.00 dikepung oleh sekitar 50 oknum aparat dipimpin langsung oleh Mah dan San ketika itu petinggi di Polres Asahan, salah satu wilayah advokasi Valent.

Pada Maret 2008, BIMA digrebek beberapa oknum Poldasu dipimpin Kasat II Reskrim, yang dulunya salah seorang Kanit di Polsek Medan Baru. Terlontar dari mulutnya bahwa penggerebekan pada Oktober 2005 malam itu karena Valent disangka memeras. Yang saya heran, siapakah yang akan diperas Valent dan dalam masalah apa?

           

1.112 Jam dalam Sel

            Valent (panggilan akrabnya) tidak menyerah, maka dibangunlah skenario agar ia masuk sel. Semua derita ini ia terima karena upayanya mewariskan mata air, bukan air mata kepada anak cucu. 48 hari atau setara dengan 1.112 jam Valent disekap di tahanan Poldasu tanpa kejelasan status hukum. Hingga tulisan ini dibuat (akhir Juli 2008) status hukumnya tak jelas.

Kalau memang Valent tidak bersalah, harusnya pihak kepolisian mengeluarkan SP3 (Surat Perintah Penghentian Perkara). Kalau memang Valent bersalah, meskinya perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi untuk dibawa ke pengadilan. Tapi, nampaknya, kasus penahanan Valent ini sengaja dibuat tak jelas.

Semula pihak-pihak pencuri kayu dan kroninya menganggap, kalau Valent ditahan akan merasa takut dan menyembah-nyembah agar hal itu tidak terjadi. Andai Valent takut tentu mereka bergembira karena nilai perjuangan akan dibarter dengan penangguhan penahanan. Selanjutnya Valent pun akan jadi boneka mereka.

Sementara pihak-pihak status quo berharap, dengan penahanan Valent, gerakan penyelamatan mata air yang berimplikasi pada transparansi dan cleant government akan meredup.

 

Asketisme

Nilai-nilai asketisme yang dipancarkan pribadi serupa Munir, Valent dan lainnya akan membawa pengaruh positif bagi orang-orang yang berada di jalan lurus. Sehingga menimbulkan semangat patriotisme dan kesanggupan berkorban buat orang banyak (lain). Tetapi, nilai-nilai asketisme tersebut akan ‘berbahaya’ bagi kelompok para pencuri dan pengusaha illegal karena gerakan mereka jadi sempit bahkan terhambat sama sekali.

Asketisme berasal dari bahasa Yunani “ascesis” yang berarti “pelatihan keras”, “disiplin diri”, atau “pengendalian diri”. Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi III, asketisme diberi arti “paham yang mempraktikkan kesederhanaan, kejujuran, dan kerelaan berkorban”.

Gerakan Munir membongkar kasus penculikan sejumlah aktivis mahasiswa pada tahun 1997 membuka mata publik peran Komando Pasukan Khusus dalam aksi itu. Sebelas anggota Tim Mawar, tim yang terlibat operasi penculikan, diadili. Dewan Kehormatan Perwira yang dibentuk memutuskan Prabowo dipensiunkan dini, sementara Muchdi PR dan dan Kolonel Chairwan, perwira yang dianggap ikut bertangung jawab, dibebaskan dari semua jabatan militer.

Gerakan advokasi hutan yang dilakoni Valent bersama rakyat dan Munir sesungguhnya berpijak pada asketisme yang kuat; komitmen pada kesederhanaan dan kerelaan berkorban. Begitu pula usaha bimbingan Valent, berpijak pada kejujuran, kesatria dan transparansi. Para siswa dilatih untuk tidak mencontek, tidak potong kompas dalam menuju cita-cita: lulus pada perguruan tinggi favorit atau mendapat nilai yang baik pada ujian semester.

Ternyata, begitu disebut dirinya harus ditahan karena logo Poldasu, Valent pun menandatangani surat penahanan dimaksud. Tapi Valent tak sudi menandatangani surat penangkapan, yang isinya setelah dua kali dipanggil berturut-turut tidak hadir lalu ditangkap.

”Kalau dipanggil tidak datang, itu mengurangi nilai intelektualitas saya. Saya tidak pernah tidak datang ketika dipanggil. Jadi mana mungkin surat penangkapan ini saya tandatangani,” tegas Valent ketika itu.

Di tahanan ia menikmati istirahnya yang selama ini jadi barang mahal. Terkadang kesibukan membuat tidur dan istirah bagi Valent sesuatu yang mahal. Maka ketika diperintahkan masuk tahanan, ia pun menikmatinya sebagai istirah yang nyaman.

Tersentaklah orang-orang yang selama ini menduga Valent akan menyerah bila ditahan. Ternyata apa yang mereka duga keliru sama sekali.

 

Para Maling Resah

Orang-orang yang terlibat di dalam konspirasi busuk para maling kayu pun resah. Lalu mereka pun cari cara agar Valent mau memohon penangguhan penahanan. Hal itu diungkapkan oleh seorang oknum polisi kepada saya (Hidayat Banjar) ketika itu. Tapi, Valent tetap bertahan.

            Apa lacur, sebuah badan perguruan yang Valent ketuanya pun digoyang. Mereka ciptakan seolah-olah ada pengurus badan tandingan. Agar menjaga keutuhan badan perguruan tersebut, akhirnya Valent bersedia menandatangani surat penangguhan penahanan, setelah 48 hari di tahanan. Bersedianya Valent dalam status hukum penangguhan penahanan agar tak mengecewakan banyak orang dan rusaknya pedidikan, khususnya di badan perguruan yang dipimpinnya. 

Kasus itu berawal dari adanya logo Poldasu (padahal di logo itu tidak ada tertera tulisan Poldasu hanya tertera Sumatera Utara) dan lambang RI (burung Garuda) di brosur BIMA. Brosur itu, kata mereka (Petugas Propam Poldasu), diedarkan di SPN Sampali 19 Desember 2006. Berarti, pencetakan brosur bermasalah tanpa sepengetahuan Valent itu diperkirakan pada tanggal 18 Desember 2006.

Betapa terkejutnya Valent ketika Petugas Propam memperlihatkan di brosur tertera logo yang menyerupai logo Poldasu dan lambang Garuda. Valent mengatakan kepada mereka, brosur tersebut dicetak tanpa sepengetahuannya. Penanggung jawab Bimbingan Super Intensif Bintara Polri adalah Baginda Panuturi Aritonang SH.

Berikutnya dipertanyakan ke bagian percetakan, Mahadi, penanggung jawab percetakan mengatakan ketika itu mesin untuk membuat plat sedang rusak. Berarti, brosur itu tidak dicetak dipercetakan BIMA.

Hal demikian tidak pernah terjadi di BT/BS BIMA. Biasanya manajer menyerahkan print out untuk dicetak ke sekretaris atau KTU, dibuat kartu kendalinya. Kalau mau cepat, langsung diantar ke meja Valent untuk diperiksa dan diparaf, lalu dicatat dan diantar ke percetakan oleh bagian ekspedisi. Hasilnya dibawa kembali ke BIMA oleh ekspedisi yang menunggu di percetakan.

Menurut petugas, mencantumkan logo Poldasu merupakan kesalahan. Brosur itu, kata mereka, diedarkan di SPN Sampali 19 Desember 2006. Berarti, pencetakan brosur bermasalah tanpa sepengetahuan Valent itu diperkirakan pada tanggal 18 Desember 2006.

Setelah itu, Februari 2007 datanglah panggilan dari Poldasu untuk memeriksa Baginda Aritonang. Semula Baginda diperiksa sebagai saksi, belakangan berubah jadi tersangka. Ketika Baginda diperiksa sebagai tersangka, Valent pun diperiksa pula sebagai saksi.

Pada April 2007, Baginda melaporkan kepada Valent bahwa dia dipanggil Poldasu untuk diserahkan ke Kejatisu berhubung berkasnya sudah P21 (lengkap). Uniknya Baginda ketika itu bolak-balik antara Poldasu dan Kejatisu (Kejaksaan Tinggi Sumut). Para Jaksa sepertinya enggan menangani perkara ini karena dianggap tidak cukup pasal (sumir) untuk diajukan ke PN (Pengadilan Negeri) Medan. Sampai enam kali berkas Baginda hilir-mudik dari Poldasu ke Kejatisu, dan kembali ke Poldasu.

Yang jadi pertanyaan, biasanya permintaan dari kejaksaanlah agar berkas dan tersangka diserahkan. Tetapi untuk kasus ini, telah diserahkan – bahkan berkali-kali – oleh kepolisian namun Kejaksaan Tinggi Sumut menolaknya. Saya ikut mendampingi Baginda ketika itu.

 

Konspirasi

Entah bagaimana ceritanya, pada Agustus 2007, datang panggilan dari Poldasu untuk memeriksa Valent dalam status tersangka. Ya, penahanan Valent, semata-mata karena para maling kayu, dikoordinir oleh lelaki berinisial As, pengusaha kayu dan pemilik usaha anggkutan ASA berasal dari Tebing Tinggi. Kabarnya As menggarap hutan Tormatutung Kabupaten Asahan bagian wilayah advokasi Valent. Rumor yang berkembang, As punya pengaruh kuat di Poldasu.

Ada pula S (yang vonis kasasinya hukuman satu tahun penjara raib entah ke mana) – juga pengusaha kayu. Mereka merasa gerah dengan advokasi hutan yang Valent dan tim lakukan di berbagai daerah di Sumut dan Aceh. Lelaki S dikenal punya hubungan dekat dengan oknum-oknum BIN.

Setelah dua kali dimintai keterangan masalah dugaan pemakaian logo tanpa izin, Valent pun ditahan pada Rabu 29 Agustus 2007. Bukankah ini merupakan pelanggaran HAM (Hak Asasi Manusia)? Valent dijerat pasal 378 dan 228 serta harus masuk sel. Tapi, hingga kini kasusnya mengambang, SP3 tak juga keluar, berkasnya pun tak dikirim ke Kejaksaan Tinggi untuk disidangkan. Yang aneh, pelaku utamanya (Baginda Aritonang SH) sama sekali tak pernah ditahan di Poldasu.

Valent adalah Direktur LSM Pelindung Bumimu yang kerap mengadvokasi hutan dan mungkin sudah jadi TO (target operasi) pihak-pihak tertentu seraya menunggu peluang (celah) untuk menjerat dan pada akhirnya meluluhlantakkan upayanya bersama masyarakat luas menyelamatkan hutan. Akankah kasus ini menjadi terang benderang atau tetap kelabu, kita tunggu saja kebijakan dari orang-orang bijak untuk menggulirkan roda hukum di track yang benar. Semoga. ***

 

*Peminat Masalah Sosial Budaya

Tinggal di Medan

July 28, 2008 - Posted by | News - Articles

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: