Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Protap: Riwayatmu Kini

Protap: Riwayatmu Kini

Oleh: Hidayat Banjar

 

Kalau ditelusuri sejak awal (1989) wacana Protap (Provinsi Tapanuli) digulirkan, sesungguhnya jauh dari isu SARA (Suku Agama dan Ras). Makanya ketika itu, berbagai elemen – baik dari Utara, Selatan, dan Tengah ikut andil agar pembentukan provinsi baru ini.

Tujuan pembentukan Protap pada awalnya juga mulia: mengatasi rentang jarak birokrasi yang berpusat di Medan. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, oknum-oknum tertentu memanfaat perjuangan pembentukan provinsi baru yang mulia tersebut untuk kepentingan pribadi oknum-oknum tertentu dan kroni-kroninya.

 

Rumah Sendiri

Kenapa disebut mulia? Sejatinya ‘kelahiran’ sebuah provinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan baru merupakan sebuah impian, sebagaimana impian keluarga baru memiliki rumah sendiri. Mengapa tidak, di rumah sendiri, anak-anak dapat bermain bebas, tumbuh bebas sebagaimana adanya, tidak terlalu memikirkan mertua atau orang lain, misalnya.

Di rumah sendiri, urusan keluarga dapat diatur sendiri tanpa perlu mempertimbangkan orang lain. Ayah dapat berperan sebagaimana ayah adanya, bukan sekadar ayah bilogis dan sebutan semata. Begitu juga ibu, dapat berperan sebagaimana ibu yang membentuk kepribadian anak-anaknya. Itulah impian keluarga-keluarga baru: dapat miliki rumah sendiri.

Memiliki rumah sendiri memang beda dengan memiliki provinsi sendiri. Tetapi, tujuan dari kepemilikan tersebut, sejatinya adalah sama: agar para penghuni rumah atau penduduk di provinsi tersebut sejahtera lahir dan batin. Dengan mengatur rumah sendiri tak tergantung dengan mertua, umpamanya, sebuah keluarga baru akan dapat memenej keuangannya sendiri.

Sejatinya lagi pembentukan provinsi, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan baru adalah agar orang-orang yang ada di wilayah itu lebih mandiri. Dengan demikian akan meningkatkan segala aspek dari kehidupan mereka. Impian ini bukanlah fantasi kosong belaka, sebagaimana kepemilikan rumah: ia adalah cita-cita mulia.

            Lalu, akankah cita-cita mulia memiliki provinsi sendiri (Protap) kandas karena syahwat kekuasaan orang-orang tertentu?

 

Sejak 6 Tahun Lalu

Ya, setidaknya, sejak tahun 2003 – 6 tahun lalalu – mulai terasa betapa perjuangan Protap diarahkan untuk kepentingan segelintir oknum. Makanya penulis sepakat, Protap jangan dibawa ke isu SARA.

Sebagai umat, imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut (Analisa Kamis, 5 Februari 2009) yang meminta umat Islam dan seluruh masyarakat tetap tenang pantas kita ikuti. “Jangan mudah terpancing isu provokatif,” katanya pasca-wafatnya Ketua DPRDSU di gedung dewan Selasa (3/1). “Kita serahkan sepenuhnya kepada penegak hukum untuk mengusut kasusnya setuntas-tuntasnya,” Kata Ketua MUI Sumut Prof Dr H Abdullahsyah MA di ruang kerjanya Rabu (4/1).

Sementatara itu, di media yang sama, Forum Harmoni Indonesia (Forsas) Kota Medan mengungkapkan, aksi yang dilakukan kelompok masyarakat di rumah rakyat sebagai ulah oknum yang haus kekuasaan.

Aksi itu telah didominasi ambisi membabi-buta, ketimbang persoalan SARA, dan berbuntut tindakan yang tidak rasional dan melanggar aturan, ungkap Ketua Forsas Medan Edwin S Pohan, Rabu.

Sementara itu orams Islam Sumut juga menyampaikan sikap hampir sama atas aksi unjuk rasa Protap yang menimbulkan kekecewaan masyarakat karena mengakibatkan wafatnya Ketua DPRDSU Drs Aziz Angkat MSP.

Pernyataan yang disampaikan DR Sayfii Siregar, H Rizal Mahaputra, Prof Dr Basyaruddin, KH Zulfikar Hajar LC, Mahlil Hamdani, Ali Yusron Gea dan sebagainya menyebutkan aksi mendukung Protoap seperti gerakan komunis.

 

Wajib Mengusut

Untuk itu petugas wajib mengusut kasus tewasnya mantan aktivis KNPI Sumut ini yang dilantik sebagai Ketua DPRD Sumut pada 27 November 2008 menggantikan Abdul Wahab Dalimunthe yang pindah dari Partai Golkar ke Partai Demokrat ini setuntas-tuntasnya. Dengan demikian harapan banyak kalangan – termasuk MUI – agar tetap terpeliharanya kekondusifan dan persatuan di daerah ini yang selama ini terpelihara dengan baik, tetap terjaga.

Kalau ditelisik lebih dalam, isu SARA tidak melekat di wacana pembentukan Protap (Provinsi Tapanuli) yang sudah diusung sejak 1998. Ketika itu pembentukan Protap memang kehendak berbagai elemen masyarakat.

Prof Bungaran Antonius Simanjuntak, guru besar antropologi Universitas Negeri Medan, yang pernah menjadi anggota Komite Pemrakarsa (Komsa) Pembentukan Protap hingga tahun 2004 mengatakan, Protap digagas sejak 1998.

Wilayahnya meliputi eks Keresidenan Tapanuli dari Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, hingga kepulauan Nias. Tahun 2000 pernah terjadi kongres rakyat Sibolga untuk membentuk provinsi ini. Namun sejak 2004, kepanitian pecah hingga melahirkan panitia baru yang diketuai GM Chandra Panggabean.

 

Fanatisme Agama

Perpecahan terjadi salah satunya karena isu pembentukan mengarah pada fanatisme agama. Muncul pula ketidaksepahaman soal letak ibu kota provinsi (Kompas Rabu, 4 Februari 2009).

Mantan Ketua Komsa Medan Amir Mirza Hutagalung menambahkan, saat itu pernah terbentuk komsa-komsa di tiap kabupaten, tetapi kini komsa sudah tidak jalan lagi. Usulan Protap yang kemudian muncul tidak lagi berada di eks Keresidenen Tapanuli, tetapi sebatas Tapanuli Utara.

Protap yang digagas 11 tahun lampau itu awalnya memang untuk kepentingan banyak elemen. Entah kenapa dalam perjalanannya – terutama sejak 6 tahun lampau – terus diwarnai konflik. Tidak mustahil, hal ini terjadi karena syahwat kekuasaan oknum dan kroninya, sehingga mengabaikan asas pelangi dalam kepanitiaan.

Sejak dari tahun 2003 tujuan pembentukan Protap telah melenceng dari keinginan awal (1998): untuk kemasalahatan masyarakat luas dalam menanggulangi rentang (jarak) birokrasi yang berpusat di Medan. Ya, sejak 2003 hingga kini, wacana pembentukan Protap terkesan untuk kepentingan oknum-oknum tertentu dan kelompoknya.

Demikianlah, syahwat kekuasaan itu akhirnya memuncak dan tragedi pun terjadilah di 3 Januari 2008. Berkisar pukul 12.15 Ketua DPRD Sumut Drs H Aziz Angkat MSP, tewas.

 

Dimanfaatkan Oknum

 Keinginan baik yang digagas berbagai elemen masyarakat tersebut sejak awal memang ingin dimanfaatkan oknum tertentu, sehingga tidak pernah ada kata mufakat. Bahkan untuk menetapkan ibukota saja terjadi pertikaian yang tak kungjung selesai. Semula ada tiga opsi untuk ibukota Protap: Tarutung, Pandan atau Siborong-borong. Entah bagaimana jalan ceritanya, akhirnya diputuskan, ibukota Protap adalah Siborong-borong. Apa lacur, tak sedikit yang keberatan dengan penetapan itu.

Ketidaksetujuan dengan Siborong-borong sebagai calon ibukota Protap merupakan salah satu pertikaian dari demikian banyak masalah. Penetapan Siborong-borong sebagai ibukota provinsi mengesankan pemaksaan kehendak pihak tertentu.

Seperti yang diberitakan ANALISA, Senin 25 September 2006 halaman 16: Karena tim prakarsa terbentuknya Provinsi Tapanuli (Protap) mengunggulkan Siborong-borong sebagai ibukota Provinsi Tapanuli nantinya, DPRD Sibolga mencabut dukungannya bergabung ke Provinsi Tapanuli.

Hal itu dibuktikan dengan dicabutnya SK No 19 tahun 2002 tanggal 3 Oktober 2002 tentang Persetujuan Pembentukan Provinsi Tapanuli. Dengan pencabutan SK No 19 tahun 2002, melalui rapat Paripurna DPRD Sibolga tanggal 18 September 2006 mengeluarkan SK No 15 tahun 2006 tentang Pencabutan Keputusan DPRD Sibolga dalam mendukung terbentuknya Provinsi Tapanuli.

 

Jangan Dipelintir

Harian Waspada (1/5 hal 1-07) dengan judul “Muslim Taput Bantah Dukung Protap” mengungkapkan ada pihak tertentu yang membawa-bawa agama untuk kepentingan mereka. “Apa pun itu, tidak etis lambang agama digunakan. Muslim Taput selama ini tidak pernah ikut campur tangan soal politik Protap,” demikian ditegaskan tokoh Muslim Taput Aminuddin Panggabean (NU), Ketua PD Muhammadiyah Taput HMT Simorangkir yang secara khusus mendatangani Waspada, sekaitan adanya beberapa warga muslim dari taput demo ke DPRDSU, membawa spanduk bertuliskan “Suku Jawa dan Muslim Taput dukung Protap”.

Menurut mereka, adanya usul pembentukan Protap sah-sah saja namun jangan dipelintir dengan mengikutkan beberapa warga muslim Taput menjadi aspirasi seluruh umat muslim daerah ini. Apalagi dengan adanya tindakan anarkis di DPRDSU, dengan memaksa Ketua DPRDSU H Wahab Dalimunthe menandatangani rekomendasi tanggal 24 April 2007.

Uniknya, pada penerbitan beberapa surat kabar seperti Analisa, Waspada, dan lainnya, Wahab mengatakan yang dia tandatangani bukan rekomendasi, melainkan sekadar penyaluran aspirasi. Kalau rekomendasi harus rapat paripurna. Tapi pada penerbitan SIB (1/5-07) di berita utama disebutkan, setelah ketemu dengan Kapoldasu, Wahab mengatakan rekomendasi itu sah.

Penulis sebagai rakyat, dan mungkin banyak rakyat lainnya merasa bingung dengan pernyataan Wahab tersebut. Ada apa?

Sekali lagi, dipaksakannya Siborong-borong sebagai calon ibukota Proptap, mengesankan rencana pembentukan  perovinsi baru itu hanya untuk kepentingan segelintir orang. Ya, sejak awal, rencana pembentukan Protap tidaklah mulus, terlebih setelah keinginan oknum-oknum tertentu dipaksakan. Makanya Gubsu HT Rizal Nurdin (alm) – ketika itu – mengatakan pembentukan Provinsi Tapanuli belum waktunya.

Boleh jadi inilah klimaks yang akan mengantarkan wacana pembentukan Provinsi Tapanuli (Protap) jadi antiklimaks dan berakhir (ending) ke titik nol. Dapat disimpulkan Protap yang digagas 11 tahun lampau awalnya memang melibatkan berbagai elemen. Belakangan berubah jadi kepentingan oknum-oknum tertentu, terutama sejak enam tahun terakhir. Sejak itu, pembentukan Protap seperti tiada hari tanpa konflik.

Aksi yang menjurus pemaksaan kehendak sesungguhnya bukan baru terjadi di 3 Januari 2009 itu. Sebelumnya juga sudah pernah terjadi, Abdul Wahab Dalimunthe saat menjadi Ketua DPRD Sumut pernah disandera demonstran untuk menerbitkan rekomendasi pembentukan Protap.

Maka saran MUI agar umat Islam dan masyarakat tenang, wajar diindahkan. Tapi untuk itu, penegak hukum harus benar-benar berjalan di rel yang ada, ditandai dengan ditindaknya para pelaku anarkisme tersebut. Semoga.

 

Peminat Masalah Sosial Budaya

Menetap di Medan

April 23, 2009 - Posted by | News - Articles

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: