Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Di Jalan itu – Hidayat Banjar

di jalan itu, di samping sebuah sekolah

dulu aku menantimu

dalam aroma bunga tanjung, kelengkit,

kecubung, jarak, namnam, dan lainnya

 

kini, di jalan itu

yang ada hanya jejakmu

bersemayam di hatiku

bunga tanjung, kelengkit, kecubung,

jarak, namnam, dan lainnya

pergi entah ke mana

dan sekolah itu

berubah jadi gedung-gedung pertokoan

 

ya, aku memang tak lagi menantimu di sini

waktu melesat bagai anak panah

lepas dari busur

 

di sini, negeri yang indah ini

negeri yang sepanjang tahun

bermandi cahaya mentari

kita pribumi termangu-mangu

menyaksikan kelebatan teknologi

dan nyaris tak terpahami

 

di jalan itu, di samping sebuah sekolah

dulu, mata air kehidupan mengalir

bagai niknok jam dinding

begitu sederhana

begitu teratur

dan kita pun kerap bergandengan tangan

dalam mimpi kembang-kembang di taman

 

kini di jalan itu

debu kehidupan

menampar wajah kita pribumi

yang terbengong-bengong

merasa asing di negeri sendiri

 

Medan, Awal Ramadhan 1425 H 

Advertisements

June 18, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra | Leave a comment

Mak, Aku Hanya Ingin Bersekolah

Mak, maafkan anakmu ini yang pergi diam-diam. Aku tak mau terkurung di desa sesunyi ini Mak. Jujur saja, aku cemburu dengan kehidupan kawan-kawan yang dapat bersekolah dengan tenang, berkumpul dengan ayah, ibu, kakak serta adik.

Maafkan, jika surat ini bernada cengeng. Tapi Mak, siapakah yang dapat menahan tangis, ketika tersentak dari pingsan yang panjang, mendapatkan keluarga berserak entah ke mana. Aku anak lelaki Aceh yang ketika peristiwa menakutkan itu terjadi baru berusia 14 tahun. Mestinya di usia 15 tahun ini aku sudah tamat dari SMP. Sebab ketika tsunami memisahkan keluarga kita, aku sudah duduk di kelas dua SMP. Mak juga tahu itu.

Mak, izinkanlah sekali ini saja, aku – anak lelaki Aceh yang didik keras oleh ayah – untuk berharu-biru dengan Emak. Minggu yang cerah itu – seketika – jadi menakutkan sekali, merampas segalanya dariku. Merampas masa kanakku tentang Lam Tengo* yang malam-malam kita isi dengan pengajian atau mendengar petuah-petuah lewat didong atau dongeng atau lainnya.

Mak mungkin tak kan pernah lupa, usai makam malam dan mengaji, kita sekeluarga berkumpul di ruang depan rumah. Ayah memberikan wejangan lewat dongeng-dongengnya. Sesekali debur ombak dari pantai Lam Awil memerdui telinga. Ditingkahi suara hewan malam, irama ombak bagai rangkaian musik yang ritmis. Berulang-ulang. Merdu dan syahdu. Semua itu kini tinggal kenangan.

Maafkan aku, kalau Mak kutinggal dengan adik di sebuah dataran luas yang hanya ada tiga gubuk dikelilingi ilalang kuning. Mak, aku mau sekolah. Akan kurebut kembali masa depan yang nyaris hilang. Biarlah Lam Tengo jadi masa lalu, di mana kicau kehidupan riuh rendah, hingga tiba hari menakutkan itu. Seketika, semua jadi puing.

Pasir kuarsa yang kemilau diterpa mentari. Nyanyian bakau, nyiur, cemara dan kicau burung-burung pantai serta lainnya, sirna.  Kecamatan Pekan Bada rata ditelan tsunami. Tak ada lagi lambaian Lam Tengo yang kerap memanggil-manggil keluarga kita yang berada di negeri rantau. Pasir kuarsa yang kemilau diterpa mentari, nyanyian pelepah rumbia, nyiur, gesekan daun bakau, cemara, dan kicau burung-burung pantai serta lainnya, sirna.

Mak, usai petaka itu, kususri tenda dan rumah-rumah pengungsian, tiap jengkal Banda adalah air mata, tak ada jejak Ayah. Dari pagi ke senja, dan pagi ke senja berikutnya kususuri pantai, yang terlihat di sana adalah jejak tsunami. Akhirnya, dalam keputusasaanku, seorang ibu muda menepuk-nepuk bahuku. Ternyata, dia adalah Emak dan calon adikku.

Dalam pencarian yang melelahkan itu, aku nyaris mati lemas karena tak makan dan minum. Untung seseorang menyelamatkanku, membawaku ke sebuah tenda pengungsian. Di tenda inilah aku bertemu Emak dan calon adikku.

Setelah kesehatanku pulih, tiga hari kemudian, aku kembali mencari Ayah. Tapi senja hanya mengantarkanku pada kegelapan. Jejak Ayah tak juga kutemukan.

Ketika itu, sejauh-jauh mata memadang adalah puing, terutama daerah-daerah pesisir pantai. Satu dua bangunan memang masih berdiri dalam posisi oleng atau retak, sisanya adalah masjid. Kecamatan Pekan Bada, Lhok Nga, Lepung, Meuraxa dan lainnya tak terlihat lagi. Semua digenangi air laut. Saat berada di Ulee Lheu terlihat mercusuar yang tinggal menara tanpa lampu penerangan. Di sini dulu aku sering diajak penjaga lampu mercusuar yang baik hati untuk memandang kehidupan laut yang seperti tanpa tepi. 

Di seberangnya adalah Lam Tengo yang tak jauh dari tempat wisata Lam Awil. Dulu, kebiruan gunung Mate’i tempat aku dan sebagian warga diselamatkan atau menyelamat diri dari amukan tsunami merupakan daerah wisata yang ramai dikunjungi. Ya, ketika itu betapa indahnya desa kita, Mak tahu itu kan? 

Kemudian, nasib mengantarkan kita berada di tengah dataran yang ditumbuhi ilalang kuning. Di dataran yang luas, hanya tiga buah gubuk sederhana, salah satunya tempat kita berteduh, terpaksa aku tinggalkan. Aku bukan tak sayang dengan Mak dan adik yang masih berusii 1,5 tahun. Bukan! Aku hanya ingin bersekolah. Di sini, tak kan mungkin kurengkuh masa depan.

Untuk menjangkau tempat kita saja, orang-orang harus melalui jalan alternatif di pinggir sungai Krueng Cut, Aceh Besar. Dengan kondisi jalan berlumpur dan berbatu. Makanan pun, harus menunggu dari kebaikan hati orang-orang yang mengantar atau kita jemput dengan susah payah. Entah apa yang Emak tunggu di sini, aku tak tahu.

Tiga gubuk ini pun baru berdiri tiga bulan yang lalu. Mak dan beberapa orangtua membangunnya dengan kayu dan papan bekas yang diboyong tsunami.

Bila siang, udara panasnya begitu terasa. Debu berterbangan dan selebihnya senyap. Tidak ada anak-anak yang bermain dan kesibukan masyarakat. Gersang. Aku kesepian, dan tanpa harapan Mak. Sekolah, jangan tanya, itu hanya impian, bila aku bertahan di sini. Di Dusun Musafir Alue Naga, Aceh Besar ini setelah tsunami menghantam, yang tersisa adalah ilalang.

Mak pernah bilang, sebahagian besar warga Dusun Musafir memang masih bertahan di pengungsian. Mereka mengungsi di bantaran sungai Alue Naga. Di sana pihak Palang Mereah Internasional (IFRC) mulai membangun rumah sementara untuk para pengungsi.

Aku selalu bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang membuat Mak dan oranguta lainnya mau bertahan di tiga gubuk ini, memilih kembali ke tanah yang sudah gersang ini? Padahal di sini tidak ada listrik dan air bersih seperti di pengungsian. Bahkan kita, para pemilik gubuk harus pergi sejauh 1,5 km untuk mendapatkan air bersih. Sementara untuk kebutuhan mandi dan mencuci, kita terpaksa mengambil dari sumur bor, warisan tsunami yang airnya sudah sedikit payau.

Menurut Kek Saini, tetangga kita, dirinya merasa lebih nyaman di sini ketimbang di pengungsian dan lebih dekat dengan sumber mata pencariannya. Kek Saini yang nelayan, memang hidup dari melaut. Tapi kita? Apa yang kita harapkan bertahan di Dusun Musafir ini? Memang, tak jarang, hasil tangkapan Kek Saini – berupa ikan, udang dan lainnya – diberikannya kepada kita, tapi Mak, aku butuh sekolah..

Sedangkan Mak, bila kutanya, hanya mengatakan: sudah sangat bosan berlama-lama di pengungsian. “Apalagi Mak punya seorang bayi kecil, berumur 1,5 tahun,” itu alasan yang tak memperhitungkan masa depanku dan masa depan adik.

“Susah kalau di pengugsian itu, gak bisa leluasa,” kata Mak berulang-ulang padaku. “Daripada hanya menunggu pembangunan rumah oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Mak lebih suka langsung ke desa ini dan membangun gubuk sendiri”.

Kondisi Kek Saini, hampir sama dengan Kek Abdullah yang usianya 60 tahun. Lelaki tua tersebut kembali ke desa ini karena mulai tidak betah di pengungsian. Dia membangun sebuah gubuk ukuran 3 X 3 meter. Dia tinggal sendirian, anak dan istrinya ditelan tsunami. Malam hari gubuk milik Kek Abdullah terang dengan lampu bertenaga matahari. Meskipun sendiri dia tetap bahagia. “Bagaimanapun ini tanah saya, dan saya memang harus kembali,” katanya kepada orang-orang, juga kepadaku.

Dusun Musafir ini memang tempat yang didatangi tsunami pertama kali dari arah Alue Naga, tetapi hingga sekarang tidak ada pembangunan, Mak pun tahu itu. Janji dari lembaga-lembaga internasional untuk membangun rumah di lokasi ini memang belum terealisasi hingga saat ini. Salah satu sebab lambatnya pembangunan di Dusun Musafir adalah jalan putus yang menghubungkan ke desa ini belum diperbaiki, sehingga agak sulit memasok bahan material bangunan.

Kata Kek Abdulah: “Kalau mau dibangun, ya jalannya diperbaiki, biar warga semua kembali ke kampung ini”.

Kapankah pembangunan jalan itu terselenggara, kapan pula sekolah diadakan? Aku sudah tak sabar Mak. Maka, maafkan jika Mak dengan terpaksa kutinggalkan. Aku mau sekolah Mak, itu saja. Jika aku sudah mampu, Mak dan adik akan kujemput. Selamat tinggal Mak. Salam dari Anakmu: Juned.

***

Gemetar tangan Nurjannah membaca surat dari anaknya yang di usia kanaknya tersebut, telah mampu menyusun kata-kata begitu bagus, bak orang dewasa saja layakanya. Ia meraung-raung sekuat-kuatnya, tetapi siapa yang mendengar? Dua tetangganya: Kek Abdullah dan Kek Saini sedang menaklukkan gelombang mencari nafkah. Pagi menjelang siang terik itu, demikian menyiksa Nurjannah. ***

 

 

Bada Aceh

Akhir Juli 2006

By: Hidayat Banjar

June 10, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra | Leave a comment

Bejo di Tahun 2250

Cerpen, by: Hidayat Banjar

Here is a short story (in Indonesian language) from my friend. We dedicate it to all readers (of course, who understand Indonesian Language ^_^) who like reading short stories. Enjoy it!!

 

Pagi, Bejo bangun dari tidur. Cahaya matahari telah penuh menyirami bumi. Bagai orang yang baru keluar dari tempat gelap, berhadapan dengan cahaya yang penuh, Bejo silau tak dapat melihat apa-apa. Dirabanya ke samping kiri, istrinya telah tidak ada di tempat. Suara anak-anak tak terdengar, mungkin sudah dihisap oleh kesibukan masing-masing.

Cahaya matahari yang masuk dari kaca jendela menyilaukan mata. Bejo mengucek-ngucek mata, menggeliat. Sesekali, pegawai negeri rendahan ini menguap. Perlahan, pandangannya yang berkunang-kunang mulai normal. Setelah penglihatannya kembali sempurna, Bejo melihat ke jam dinding, “Wah aku bangun kesiangan rupanya,” ujarnya dalam hati.

                        Entah kenapa di pagi yang bermandi cahaya mentari itu, Bejo teringat pendidikan anak-anaknya. Tadi malam si Bungsu bercerita bahwa uang sekolahnya sekarang naik, dari satu juta lima ratus ribu rupiah menjadi dua juta rupiah, uang ongkos angkot ditambah keperluan ini itu ditaksir sekitar dua juta lima ratus ribu rupiah per bulan. “Ini lain uang buku,” kata si Bungsu mengakhiri ceritanya. Si Bungsu baru duduk di kelas VI SD (Sekolah Dasar) swasta.

Bejo menghitung-hitung dengan jarinya, persis seperti anak-anak baru belajar berhitung. Anaknya ada enam orang, semuanya masih dalam masa pendidikan yang memerlukan biaya tak sedikit. Pendidikan kini bagai barang mewah saja, makin tak terjangkau bagi orang-orang berpenghasilan rendah.

Bejo memang dianjurkan oleh orangtuanya untuk punya anak banyak. Tapi ia merasa cukup dengan enam orang saja. Bejo sadar, betapa repotnya mengurus anak-anak jika lebih dari enam. Yang enam orang ini saja pun menurut Bejo, sudah sangat banyak. Namun, bagi orang-orang seangkatannya, enam orang anak belum dapat dikatakan banyak, maklum ketika ia menikah dulu, orang-orang tak lagi menghiraukan apa itu program Keluarga Berencana (KB). Bahkan semua orangtua di negerinya berpesan pada putra-putri mereka agar mencari pasangan hidup yang subur guna memperbanyak keturunan.

Maklum, perang bintang dan bencana alam membuat makhluk bumi di negara mereka dan negara-negara lain seketika mati dalam jumlah yang cukup banyak. Negerinya pernah dilanda gempa bumi dan gelombang tsunami yang dahsyat, menewaskan ratusan ribu manusia. Ketika gempa terjadi, ombak laut menerjang daratan dan menenggelamkan apa saja yang terkena hantamannya.

Gempa juga pernah membuat tanah merekah, ratusan ribu rumah beserta penghuninya seolah ditelan kegaiban, lenyap ke dasar bumi. Kemudian dalam seketika bumi mengatup kembali. Ratusan ribu manusia lainnya terjepit reruntuhan gedung-gedung bertingkat.

Perang bintang lebih dahsyat lagi, menewaskan seluruh manusia yang terkena racun ganas mematikan. Semua itu tercatat dengan baik di buku-buku sejarah dari tingkat sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (PT).

Karenanya, orangtua Bejo – seperti orang-orangtua lainnya ketika itu – berpesan kepada anak-anak mereka, agar mencari pasangan hidup yang subur. “Berkembangbiaklah sebanyak-banyaknya. Bangsa kita tak boleh punah di permukaan bumi ini,” pesan orangtua lelakinya ketika itu.

Coba bayangkan, ketika perang bintang terjadi, mesin pembunuh tersebut digerakkan hanya dari kantor musuh, tapi dapat menewaskan seluruh makhluk hidup di wilayah TO (Target Operasi). Kapsul besar itu dikirim lewat teknologi komputer yang tentu saja dengan perhitungan sangat cermat. Sampai di wilayah target, kapsul besar berisi racun itu meledak di angkasa. Bertebaranlah aroma mematikan tersebut. Setiap makhluk hidup yang menghirup oksigen, tewas disebabkan racun yang menyebar di udara.

Dari sebuah kantor di negeri jauh, bangsa musuh menembakkan kampsul berisi racun pembunuh yang sangat mematikan ke ibu kota negara dan ibu-ibu kota provinsi yang ada di negeri Bejo, sehingga seluruh penduduk kota mati dengan kondisi mengenaskan. Jantung mereka pecah. Darah menetes dari hidung, telinga dan mulut. Tubuh mayat-mayat yang bergelimpangan itu hitam legam, seolah hangus terbakar. Menakutkan! Tentu saja sangat menakutkan. Itulah sejarah kelam bangsa manusia akibat obsesi sekelompok orang yang ingin jadi penguasa dunia.

Pemimpin-pemimpin perang berkeyakinan, perang modern tak sama dengan perang konvensional. Dalam perang konvensional, strategi desa mengepung kota, masih dapat diterapkan. Tetapi, dalam perang modern, kota-kotalah yang harus dilumpuhkan. Sebab, pusat teknologi ada di kota-kota.

Benar adanya, kota-kota lumpuh dalam seketika dihantam racun dari perang bintang itu. Negara yang diperangi benar-benar lumpuh. Tapi, bukan penguasaan atau aneksasi yang dilakukan negara musuh. Malah negara musuh memperlihatkan sikap bersahabat dan meminta maaf kepada negara di mana Bejo bermukim atas kejadian menakutkan tersebut. Sikap ini muncul karena dampak perang yang begitu dahsyat. Bangsa musuh pun rupanya tak pernah menduga, kalau perang bintang berdampak begitu dahsyat. Bangsa musuh akhrinya tak jadi menguasai negeri Bejo yang luluhlantak, malah membangunnya.

Mengapa tidak, usai perang, tinggallah bangunan-bangunan saja serta bau bangkai manusia menyergap sudut-sudut kota hingga ke pelosok. Pokoknya dari titik ledakan hingga radius 1000 km terkena racun. Maka punahlah seluruh manusia dan makhluk hidup lainnya yang menghirup oksigen dalam radius 1000 km. Sebagaimana sajak Chairil Anwar, udara memang benar-benar bertuba.

Usai perang, dunia – termasuk negeri di mana Bejo bermukim – benar-benar bagai zaman purbakala. Tak ada peralatan canggih seperti komputer, mesin-mesin, dan teknologi modern lainnya. Negara benar-benar lumpuh. Kehidupan terselenggara begitu bersahaja. Mimpi penguasaan dunia lumer dan menguap karena ketakutan hilangnya perdaban. Mimpi-mimpi tentang penguasaan dunia bukan lagi ide yang populer. Justru membangun kebersamaan, membangun aliansi strategis tanpa perasaan superioritas menjadi trand bangsa-bangsa dunia.

Bejo dan keluarga serta bangsa manusia, juga makhluk hidup lainnya dapat selamat dari racun mematikan itu karena bermukim di wilayah hutan. Racun mematikan itu tak sampai ke wilayah mereka. Para pemimpin perang ketika itu memang memilih TO ibu-ibu kota negara serta provinsi.

                        Perlahan, sistem kenegaraan, mulai dari desa hingga ke pusat terbangun kembali. Cuma, ketika itu pemimpin-pemimpin tak lagi suka menonjolkan kehebatan pribadi. Seluruh konsep pembangunan tetap bersandar pada keinginan rakyat.

                        Sangat mengejutkan, pembangunan mengalami proses percepatan yang maksimal. Kehidupan kembali berdenyut. Bahkan sangat mengagetkan bagi orang-orang yang tak siap menghadapi perubahan.

***

Anak Bejo yang bungsu masih duduk dibangku sekolah dasar (SD). Dua orang  sekolah lanjutan pertama (SMP), yang dua di SMA, dan yang satu lagi – yang sulung – menduduki bangku kuliah tahun kedua Fakultas Sastra di universitas cukup terkenal di kotanya. Bejo menotal, berapa puluh juta harus dikeluarkan setiap bulannya hanya untuk memenuhi pendidikan anak-anaknya. Berapa ratus juta, bahkan miliar rupiah setahun untuk keperluan hidup keseluruhan. Bejo merenung.

                        Kemarin ia berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, niatnya hanya untuk melihat-lihat saja dan jika kebetulan ada yang menarik dengan harga murah pula, ia akan membelinya. Selama ini ia sudah lama tidak membeli pakaian anak-anak, istri dan dirinya. Begitu pula keperluan rumah tangga lainnya. Bejo tercenung waktu menawar sepotong celana yang cukup sederhana. Si  pedagang mengatakan, celana itu cukup murah, hanya Rp 1.600.000 saja. Bejo tak jadi membelinya, karena menurut anggapannya harga celana itu cukup tinggi untuk jangkauan kantongnya yang hanya pegawai negeri rendahan.

                        Bejo berjalan lagi, melihat-lihat permainan anak-anak, di situ dipajang boneka-boneka yang cantik, mobil-mobilan, motor-motoran, dari model tahun silam sampai model mutahir. Bejo merasa takjub.

                        Waktu Bejo masih kanak-kanak, kota tempat tinggalnya sekarang belumlah menjadi kota, masih desa yang penuh kesegaran. Pohon-pohon tumbuh di sana-sini dengan suburnya. Jika Bejo ingin bermain mobil-mobilan, ia buat dari kayu. Demikian pula dengan permainan lainnya.

                        Kini zaman berubah, trand aliansi strategis bangsa-bangsa di dunia menghidupkan peradaban yang hancur usai perang bintang. Desa Bejo yang dulu dikelilingi hutan lebat, perlahan-lahan berubah menjadi perkampungan yang besar dan luas. Justru sebaliknya, kota-kota yang terkena perang bintang, karena dianggap berbahaya, dibiarkan tak diurus hingga belakangan menjadi hutan. Siapa yang mau mengurus, masuk ke wilayah itu saja orang sudah takut.

                        Perkampungan yang besar dan luas tempat Bejo bermukim itu, perlahan-lahan jadi kota besar yang modren dan gemerlap. Hutannya habis. Sawah-sawah kini lenyap menjadi bangunan megah. Kerbau-kerbau tidak berfungsi lagi sebagai penarik bajak, digantikan oleh mesin pembalik tanah, traktor tangan, maupun traktor besar.

Sisno-sinso membabat habis pohon-pohon kayu yang berumur puluhan serta ratusan tahun. Kampungnya pengab oleh baurnya beragam bahan kimia dan asap pabrik plus kendaraan bermotor. Plaza-plaza, mall-mall, hypermarket adalah bagian kota yang megah serta full ac (air condition). Sementara udara di luarnya begitu terik. Mengapa tidak, permainan anak-anak pun telah digerakkan oleh mesin.

                        “Cari apa Pak,” tanya seorang pelayan wanita yang berpakaian sangat seksi, sehingga tonjolan-tonjolan tubuhnya begitu kentara. Roknya hanya sejengkal lebih sedikit, tipis pula lagi. Begitu juga dadanya, kalau ia membungkuk, pastilah tonjolan itu akan menyembul ke luar.

                        “Oh, tidak, lihat-lihat saja,” jawabnya. Bejo bertambah bingung ketika seorang berperut buncit, berkulit putih bersih, membeilkan permainan untuk anaknya.

                        Setelah mengumpul seluruh permainan yang diinginkan anaknya, lelaki necis itu bertanya kepada pelayan: “Berapa ya,” bahasa Indonesianya tidak sempurna bahkan buruk bercampur dengan dialek asing. Pelayan menghitung sebentar dengan kalkulator. “Duabelas juta tiga ratus ribu rupiah saja Pak,” jawab si pelayan yang seksi. Sementara pelayan yang lain membungkus permainan tersebut.

                        “Wah… hanya untuk permaian anak-anak saja sampai sebegitu mahal?” Celoteh Bejo dalam hati. “Waktu aku masih kanak-kanak, permainanku segalanya serba gratis,” tambahnya pula, masih di dalam hati.

                        Tidak satu benda pun dibeli Bejo di pusat perbelanjaan itu, baik pakaian, permainan anak-anak maupun keperluan rumah tangga karena koceknya tidak dapat menjangkau harga barang-barang yang dipajang. Maklumlah, Bejo hanya pegawai negeri rendahan yang hanya tamatan strata satu (S1). Sementara pegawai-pegawai menangah ke atas diisi oleh para Doktor (S3) atau setidaknya S2. Makanya Bejo dan keluarga harus hidup dengan serba hemat.

Bejo ke luar dari pusat perbelanjaan itu dan berjalan pulang meninggalkan kemegahan pusat perbelanjaan penuh ac. Terik matahari menyambutnya, sementara orang-orang yang berkantong tebal, sekeluar dari pusat perbelanjaan itu, berlindung dari sengatan matahari  dengan masuk ke mobil-mobil mewah full ac, bertempat duduk empuk, ruangan nyaman serta wangi.

Bejo berjalan saja di atas aspal yang seakan mau mencair dipanggang matahari. Ia tidak naik taksi, karena sangat mahal menurut ukuruan koceknya. Angkutan becak tidak ada lagi, tinggal hanya di buku sejarah. Becak tak lagi digunakan sebagai alat transportasi. Tidak manusiawi, begitulah kata tokoh-tokoh pejuang HAM (Hak Asasi manusia). Angkot (angkutan kota) tidak ada yang yang melintas ke arah kediamannya. Maka ia putuskan berjalan kaki saja. “Toh, tak begitu jauh dengan memotong jalan serta jalan-jalan tikus,” katanya membela keadaannya yang terus bersahaja sepanjang hayat dikandung badan.

                        Bejo berjalan terus di trotoar kota. Saat melintasi sebuah rumah besar, hatinya terenyuh ketika menyaksikan di halamannya, tertambat seekor monyet kurus kering dengan beberapa luka yang dikerubungi lalat. Sesekali monyet itu menangkap lalat-lalat tersebut dengan tangan yang merangkap kaki. Lalat yang tertangkap dimasukkannya ke dalam mulut. Sesekali sang monyet menggaruk-garuk kepalanya. Begitu dapat kutu, lalu dimasukkan ke mulutnya.

Pada momen lain, si monyet seperti menitikkan air mata memandang pohon-pohon yang meranggas mengarah kering di halaman rumah besar tersebut. Mungkinkah tanah sudah tidak subur lagi sehingga tanaman-tanaman jadi gersang.

                        Monyet itu memandang ke arah Bejo seakan berkata: “mana pohon-pohon untukku Bejo”. Bejo diam dan tercenung lagi. Ya, ia hanya dapat diam, tak mungkin berkomunikasi dengan si monyet. Bejo bukanlah ahli ilmu jiwa binatang apalagi dapat berbicara dengan binatang. Tidak! Bejo hanyalah pegawai negeri rendahan yang berusaha bertahan dalam kejujuran. Ia tadi hanya mereka-reka saja apa yang sedang dialami si monyet yang meneteskan air mata, dan Bejo ikut berduka.

                        Bejo berjalan lagi, ia coba lupakan tentang monyet itu. Ia melihat ke arlojinya, jarum jam  telah menunjukkan pukul 1.30, matahari membakar ubun-ubun. Terik sekali. Bejo berkeringat dan merasa gerah. Betapa tidak, jalan yang ditempuh tanpa naungan pohn-pohon penyerap panas.

                        Teggorokannya kering. Di sudut sana matanya menangkap penjual cendol. Bejo berjalan ke arah itu. Setelah sampai dan duduk di bangku yang disediakan, Bejo memesan segelas. Meneguknya dengan penuh nikmat. Ia selenjorkan kakinya yang telah mulai letih, karena sekian jam berjalan-jalan mulai dari pusat perbelanjaan tadi hingga sampai ke penjual cendol.

                        “Berapa Pak,” tanya Bejo setelah selesai minum dan beristrahat melepaskan lelahnya. “Tujuh puluh lima ribu rupiah saja,” jawab si penjual cendol, Bejo membayarnya dengan uang tukaran Rp 100.000. Setelah mendapat kembalinya, Bejo ingin melangkah, tapi tiba-tiba: “Pak kenapa belum pergi kerja”.

                        Bejo tersentak dari lamunannya. Rupanya sedari tadi ia belum bergerak dari termpat tidur.

                        “Oh, Bu, dari mana?” Bejo kaget.

                        “Hari telah pukul sebelas, tapi Bapak mandi pun belum. Bapak tidak pergi kerja ya? Oya Pak, tadi saya belanja. Saya membeli ini, bakal celana, dan ini, dan ini,” ujar istrinya sembari memperlihatkan barang-barang yang dibelinya. “Semuanya berjumlah sembilan juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah,” sambung istrinya.

                        Bejo tersentak, lantas bangkit dari tempat tidurnya. Melihat kalender. “Wah… tahun dua ribu dua ratus lima puluh, dua ribu dua ratus lima puluh,” celotehnya sambil pergi ke kamar mandi. Istri Bejo terheran-heran, kok sang suami bicara sendiri. Istrinya juga bingung, kenapa ia yang sudah capek menerangkan apa-apa yang dibeli berikut harganya, tetapi tak dihiraukan sang suami?

 

June 9, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra | 2 Comments

Persahabatan

Persahabatan tidak mungkin terjalin jika kita hanya memberikan sebagian dari diri kita, sebab setiap jiwa berbeda dengan jiwa yang lain. Dalam persahabatan dan cinta , dua tangan terangkat berdampingan bersama untuk menemukan apa yang tidak dapat dicapai sendirian.

By: Khalil Gibran

June 3, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra, Soul's Medicine | Leave a comment

Yogi dan Kalajengking

Seorang Yogi (= orang yang mempraktekkan Yoga), yang duduk bersamadi di pinggir sungai Gangga, melihat seekor kalajengking masuk ke dalam air di depannya. Dia memungut kalajengking tersebut, namun disengat oleh binatang itu. Kalajengking itu jatuh lagi ke dalam air. Sekali lagi yogi tersebut menyelamatkannya, dan sekali lagi dia disengat. Kejadian itu berulang dua kali lagi, dan baru setelah itu seseorang yang melihat kejadian itu bertanya kepada yogi itu, “Anda terus juga menolong kalajengking itu, padahal satu-satunya terima kasih yang ditunjukkannya adalah menyengat Anda ?”

Yogi itu menjawab, “Memang sifat kalajengking adalah menyengat, sedangkan sifat para yogi adalah menolong yang lain jika mereka mampu melakukannya.”

May 30, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra, Soul's Medicine | Leave a comment

Puisi

Ada suatu cerita mengenai seorang pemuda yang menyenangi puisi dan tinggal berseberangan sungai dengan gurunya. Pemuda itu, pada suatu hari menulis puisi yang isinya menguraikan tentang tidak adanya sifat ke-AKU-an dalam dirinya, dimana angin dari delapan penjuru pun tidak akan mampu menggoyahkannya. Setelah puisi tersebut selesai ditulis, yang menurut dia adalah yang terindah, maka diutuslah pelayannya ke seberang untuk dikirimkan kepada gurunya dengan maksud mendapatkan pujian.

Gurunya, sesudah membaca puisi tersebut, langsung menulis di belakang kertas puisi itu, “Puisi anda ini BAU seperti KENTUT !”

Tentu saja pemuda itu marah bukan kepalang setelah membaca komentar gurunya. Diapun memutuskan untuk mengunjungi gurunya secara langsung dan dengan emosi meluap, dia berteriak, “Guru sungguh tidak bisa menghargai keindahan puisi. Puisi itu adalah yang terindah menurut saya, tetapi guru bukannya memberikan pujian, malah mencerca seperti BAU KENTUT !!”

Gurunya menjawab sambil tertawa, “Ha..ha..ha.., muridku, bagaimana engkau mengatakan sudah tidak mempunyai sifat ke-AKU-an sampai angin dari delapan penjuru pun tidak mampu menggoyahkan dirimu. Lihat saja, baru kena satu angin kecil saja (kentut), Anda sudah terbirit-birit menemuiku !!”

May 30, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra, Soul's Medicine | Leave a comment

The Art of War – By Sun Tzu

Nih ada Buku Seni perang karya SunTzu yang sudah diakui dunia sejak jaman dulu.

http://www.ziddu.com/download.php?uid=a7KhlpitbbKelpits6yZlJyiZa%2BWlpqt5

May 26, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra, Downloads | Leave a comment

100 Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah

DASAR PEMIKIRAN

Dalam bukunya Tentang Sastra Inggris, Voltaire –tatkala berada di negeri itu tahun 1726– mendengar ada diskusi di kalangan cendikiawan perihal: siapa manusia paling jempolan. Caesar? Alexander? Tamerlane? atau Cromwell? Salah seorang peserta bilang, tak syak lagi pastilah Sir Isaac Newton jago bin jagonya. Voltaire akur dengan pilihan ini dengan pertimbangan, “Memang dialah yang membimbing kita punya pikiran dengan kekuatan kebenaran, bukan membelenggunya dengan kekerasan. Karena itu sepatutnya kita menaruh hormat dan salam ta’zim dan berhutang budi tak terperikan.”

Apa betul Voltaire yakin Sir Isaac Newton manusia terjempol di jagad, ataukah sekedar mencoba, menampilkan permasalahan filosofis karena penunjukan itu akan memancing pertanyaan-pertanyaan susulan: dari sekian milyar manusia yang pernah lahir di dunia, siapa diantara mereka yang punya Pengaruh terhadap jalannya sejarah?

Buku ini merupakan jawaban saya. Ada seratus anak manusia dalam daftar yang saya susun dan saya yakin keseratus orang itu menentukan arah jalannya sejarah. Perlu saya tegaskan, mereka itu bukanlah manusia-manusia dalam artian “terbesar,” melainkan dalam arti paling berpengaruh dalam sejarah. Misalnya, saya cantumkan Stalin dalam daftar, karena pengaruhnya dalam sejarah, tak peduli dia itu bengis dan jahanam. Di lain pihak, orang suci dan keramat seperti Bunda Carini, tidak.

Buku ini semata-mata berurusan dengan pertanyaan siapa seratus orang itu yang telah pegang peranan mengubah arah sejarah dunia. Dari seratus orang itu saya susun urutannya menurut bobot arti pentingnya, atau dalam kalimat lain: diukur dari jumlah keseluruhan peran yang dilakukannya bagi ummat manusia. Kelompok seratus orang istimewa ini saya susun dalam daftar saya, tak peduli apakah dia seorang bijak bestari atau terkutuk, tak peduli apakah dia kesohor atau gurem, gemerlapan atau biasa-biasa saja. Yang jelas, kesemua mereka adalah anak-anak manusia yang telah memberi bentuk kepada kehidupan kita, meraut lonjong-bulatnya wajah dunia.

Sebelum menyusun daftar urutan, tentu saja perlu ada patokan dasar, siapa yang layak dicantumkan dan atas alasan apa. Patokan dasar pertama sudah barang tentu memang manusianya benar-benar pantas. Tetapi, patokan dasar ini tidak selamanya mudah. Misalnya: apakah pujangga bijak Lao Tzu dari Cina betul-betul pernah hidup di dunia? Apakah bukannya sekedar tokoh dongeng? Bagaimana pula tentang Homer, tentang Aesop yang kesohor dengan julukan penulis kisah dunia binatang? Menghadapi masalah musykil seperti itu, terpaksa saya menempuh jalan dugaan –saya harap bukan duga sembarang duga– karena saya pun menghimpun informasi dari sana-sini seberapa bisa.

Pribadi-pribadi anonim juga di luar hitungan. Boleh jadi penemu roda –jika benar roda dirancang oleh seorang individu– tidak bisa tidak layak digolongkan tokoh yang tak kalah pentingnya dengan mereka yang tercantum dalam daftar, tetapi diukur dari patokan dasar yang saya letakkan, saya sisihkan dari bahan pertimbangan. Tak kecuali penemu cara tulis-menulis.

Dalam penyusunan daftar ini saya bukan semata memilih tokoh paling kenamaan dan kemilau dalam sejarah. Ketenaran, bakat, kedermawanan, tidaklah bisa disamakan dengan pengaruh. Karena itu, nama-nama seperti Benjamin Franklin, Martin Luther King Jr., Babe Ruth, bahkan Leonardo da Vinci tidak termasuk dalam seratus tokoh saya, walau beberapa diantaranya saya cantumkan dalam kelompok “Tokoh-tokoh Terhormat” sesudah Seratus Tokoh. Lagi pula, apa yang saya sebut pengaruh tidaklah mesti selalu berkaitan dengan kelembutan, baik hati, belas kasih. Itu sebabnya keparat jenius seperti Hitler masuk syarat kelompok Seratus Tokoh.

Atas dasar pertimbangan yang dimaksud pengaruh itu mesti mengandung jangkauan mondial, pribadi-pribadi hebat, politikus-politikus lokal tidaklah masuk hitungan. Tetapi bisa juga terjadi –misalnya pada diri Peter Yang Agung dari Rusia– biarpun pengaruh utamanya tertuju pada negerinya sendiri, namun riaknya bisa terasa ke luar batas tanah airnya. Alasan ini mendorongnya bisa masuk daftar saya.

Saya tidak semata membatasi daftar pada tokoh-tokoh yang punya pengaruh terhadap peri kehidupan kemanusiaan masa kini. Pengaruh atas generasi masa lampau saya anggap punya harga sama, dan saya perhitungkan.

Bagaimana tentang masa depan? Dalam kerja penyusunan tingkat-tingkat urutan daftar ini, baik menyangkut pria maupun wanita, saya anggap pengaruh karya dan cipta mereka juga menyentuh generasi dan peristiwa masa depan. Berhubung pengetahuan kita tentang masa depan teramatlah terbatasnya, terang tak sanggup saya mereka-reka kesinambungan pengaruh mereka dengan segala kepastian. Sementara itu, rasanya aman kalau saya meramalkan bahwa listrik –misalnya saja– masih tetap punya arti penting lima ratus tahun mendatang, karena itu persembahan pendekar ilmu seperti Faraday dan Maxwell akan tetap punya pengaruh terhadap peri kehidupan keturunan kita di masa jauh mendatang.

Dalam hal memutuskan di mana tempat pribadi seseorang, saya cenderung pada pertimbangan sejauh mana sumbangsihnya pada gerakan-gerakan historis. Secara umum, perkembangan historis besar tak pernah dilontarkan oleh perbuatan seseorang semata-mata. Hanya karena buku ini membahas dan berurusan dengan individu, dengan pengaruh perbuatan pribadi, saya mencoba memisah-misahkan sejauh mana peranan seseorang dalam proporsi peranan yang telah diperbuatnya. Oleh sebab itu, pribadi-pribadi tidaklah diletakkan pada tempat yang setara melainkan berkaitan dengan sejauh mana mereka terlibat dalam arti penting kejadian atau perkembangan. Karena itu, bisa terjadi seseorang yang secara nyata bertanggung jawab terhadap sesuatu peristiwa atau perkembangan, saya tempatkan pada urutan tingkat lebih tinggi daripada seseorang yang kurang pegang peranan walau berada dalam suatu gerakan penting.

Contoh paling menyolok dapat disaksikan pada pilihan saya menempatkan Nabi Muhammad dalam urutan tingkat lebih tinggi ketimbang Nabi Isa. Ini sebagian pokoknya lantaran saya percaya Muhammad punya pengaruh pribadi lebih besar dalam hal pembinaan Agama Islam dari pada Nabi Isa terhadap Agama Kristen. Ini –tentu saja– bukan lantas berarti saya menganggap Nabi Muhammad itu merupakan manusia lebih besar dibanding Nabi Isa.

Banyak kejadian dan perkembangan penting yang melibatkan peranan sejumlah besar orang. Namun tak seorang pribadi pun layak dipandang paling terdepan diantara mereka. Misal terbaik tampak pada dunia bahan peledak dan senjata api. Atau dalam perkara gerakan kebebasan kaum wanita. Atau sekitar masalah lahir dan berkembangnya Agama Hindu. Betapa pun kesemua perkembangan itu menyimpan makna amat penting, tetapi jika tingkat kedudukan urutan mereka dibagi rata, tak seorang pun akan masuk daftar.

Ataukah ditempuh cara menunjuk salah seorang mewakili rekan-rekannya yang berada dalam satu rangkuman peranan pengembangan? Atau menyepakati orang tersebut menduduki tingkat urutan? Saya pikir tidak bisa. Dengan cara begini, filosof Hindu Sankara bisa tampil hampir di puncak urutan selaku wakil Hinduisme. Padahal, Sankara sendiri tidaklah tersohor, dia tak dikenal di luar India dan dia bukanlah tokoh berpengaruh. Kesulitan serupa akan saya temui bilamana menempatkan si slebor Richard Gatling –penemu senapan mesin– pada urutan diatas Albert Einstein, semata-mata atas pertimbangan bahwa perkembangan senjata api jauh lebih penting ketimbang penemuan teori relativitas. Menghadapi masalah-masalah macam begini, saya sudah berketetapan hati tidak akan coba-coba memilih “Yang utama dari yang setara.” Tiap orang yang tercantum di buku ini sudah terpilih atas dasar pertimbangan pengaruhnya yang nyata, dan tidak dari sudut wakil dari sesuatu perkembangan.

Bilamana dua orang bekerja erat bersama menghasilkan sesuatu hasil karya kolektif, saya gariskan suatu ketentuan spesial. Misalnya, Orville dan Wilbur Wright bekerja berdua begitu dekatnya bahu-membahu menemukan pesawat terbang, dengan sendirinya nyaris mustahil memisahkan peranan mereka sendiri-sendiri. Dalam kasus macam ini adalah gegabah mencoba menetapkan jatah yang berimbang untuk masing-masing mereka dan mengangkatnya secara terpisah-pisah dalam daftar. Pemecahan yang ditempuh adalah keduanya diperlakukan sebagai suatu hasil gabungan.

Hal yang mirip dengan Wright bersaudara itu terjadi pula pada Karl Marx dan Friederich Engels. Keduanya peroleh tempat urutan sama walau penyebutan nama dalam daftar urutan jatuh pada Karl Marx. Saya anggap peranan Marx dalam hal ini lebih menonjol. Ada banyak lagi kasus hasil kerja gabungan yang saya perlakukan seperti itu. Perlu saya tandaskan, garis kebijaksanaan macam ini tidaklah diperuntukkan hanya kepada mereka berkat bekerja dalam lapangan yang serupa, tetapi semata-mata hanya dari segi kerjasamanya.

Ada pula segi pertimbangan lain dalam hal penempatan daftar urutan ini yang perlu diperhatikan. Mari sedikit menoleh ke masa lampau. Kita akan melihat, andaikata Guglielmo Marconi tidak menemukan radio beberapa orang dalam tahun-tahun yang tak begitu berjauhan akan menemukannya. Begitu juga halnya dalam perkara Mexico. Andaikata Hernando Cortes tak pernah dilahirkan ibunya ke dunia, toh Mexico ditaklukkan juga oleh Spanyol. Tak kecuali menyangkut teori evolusi: tanpa adanya Charles Darwin pun teori itu akan terumuskan juga. Tetapi, fakta menunjukkan memanglah karya itu diselesaikan oleh Marconi, Cortes, dan Darwin. Itu sebabnya, ketiga orang itu tercantum dalam urutan daftar selaras dengan hasil prestasi masing-masing. Dalih “Kemungkinan lain bisa terjadi” bisa disisihkan.

Di segi lain, sejumlah kecil orang-orang tertentu bertanggung jawab terhadap terjadinya peristiwa besar yang tanpa peranan mereka tak akan pernah ada. Dalam rangka penentuan urutan orang-orang ini –katakanlah kumpulan beragam manusia-manusia istimewa termasuk didalamnya Jengis Khan, Beethoven, Nabi Muhammad dan William Sang Penakluk– prestasi khusus mereka memperoleh bobot tersendiri, karena orang-orang ini secara pribadi memancarkan pengaruh yang mendalam, dalam arti makna yang sesungguh-sungguhnya.

Dari puluhan milyar manusia yang pernah ada di atas planit bumi ini, tak lebih dari satu juta yang bisa masuk ke dalam buku biografi dalam arti luas. Dari jumlah itu, mungkin cuma 20.000 orang yang hasil upayanya punya harga untuk disebut dalam buku kamus biografi. Dan dari jumlah itu hanya 0,5% yang saya cantumkan dalam daftar urutan saya. Ini artinya, menurut hemat saya –mereka itu hasil perasan betul-betul, mereka itu manusia yang punya makna monumental dalam sejarah kemanusiaan.

Pengaruh peranan wanita terhadap peri kehidupan manusiawi, begitu pula peranan dan sumbangsih mereka terhadap kebudayaan manusia, jelas lebih besar dari jumlah mereka yang tercantum dalam daftar saya ini. Tetapi, kecemerlangan pengaruh ketokohan merupakan hasil upaya gabungan dari sejumlah pribadi-pribadi, baik dalam arti bakat maupun kesempatan untuk pemantapan pengaruh. Sepanjang sejarah, peranan mereka umumnya disepelekan. Keputusan saya mencantumkan dua tokoh wanita dalam daftar merupakan pencerminan dari rasa penyesalan terhadap kebenaran. Saya tidak melihat faedahnya menutup-nutupi adanya fakta yang bernada keengganan dan diskriminatif atas pencantuman mereka dalam daftar. Buku ini tak lain tak bukan berdasar apa yang memang pernah terjadi di masa lampau, dan bukannya apa yang harus terjadi, dan bukan pula sekedar berbuat adil terhadap apa yang pernah terjadi dalam sejarah kemanusiaan. Pengamatan serupa juga saya lakukan terhadap peranan pelbagai kelompok ras dan etnis yang anggautanya telah dirugikan dan disia-sia di masa lampau.

Di atas sudah saya tekankan bahwa soal pengaruh saya jadikan satu-satunya ukuran dalam penyusunan daftar urutan tentang ikhtisar peranan pribadi-pribadi. Tentu saja, bukan perkara sulit menyusun daftar “Orang-orang hebat” dengan dasar pertimbangan lain seperti masyhur, berkarya besar, bakat, sarat kesanggupan, bijak bestari.

Para pembaca sendiri bisa bernafsu bikin percobaan menyusun daftar menurut selera Tuan-tuan sendiri, apakah menyangkut manusia yang amat berpengaruh, atau manusia yang termasyhur, atau tentang manusia-manusia langka yang punya kelebihan di luar kelaziman pada bidang-bidang tertentu. Tentu saja saya berpendapat, buku yang saya susun tentang seratus tokoh yang mempengaruhi sejarah dunia ini bukan saja mempesona tetapi juga menarik. Berbarengan dengan itu saya pun yakin Tuan-tuan pun dapat menikmati daftar tokoh yang Tuan susun sendiri sebagai latihan keintelektualan. Daftar susunan Tuan itu tak akan sama dan tak perlu sama dengan daftar susunan saya. Siapa tahu, Tuan lebih cenderung menyusun daftar seratus tokoh yang masih hidup dan berkeliaran di atas bumi ini, atau daftar seratus tokoh yang menyimpan karisma ajaib. Tetapi, jika Tuan akan menyusun daftar seratus tokoh yang paling berpengaruh, saya doakan latihan Tuan itu akan bermanfaat buat Tuan, seperti halnya bermanfaat untuk diri saya, karena perbuatan itu akan membuka lebih lebar cakrawala baru dalam sejarah.

E-Booknya bisa didownload di link berikut ini: http://www.ziddu.com/download.php?uid=Za%2Bhm5WlY7KZlOKnYqqhkZSqX6ydl5Sm2

May 24, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra, Downloads | Leave a comment

Sajak “PENERIMAAN” by Chairil Anwar

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

Maret 1943

May 23, 2008 Posted by | Bahasa dan Sastra | Leave a comment