Joeleonhart’s Weblog

To Learn and To Share

Antara TOEFL dan IELTS

Bagi mereka yang sedang belajar bahasa Inggris untuk persiapan belajar
ke luar negeri, kata TOEFL dan IELTS hampir selalu terngiang di
telinga. Tuntutan agar TOEFL atau IELTS mencapai angka tertentu,
selalu menjadi pendorong bagi peserta kursus untuk segera mengejarnya.
Pertanyaannya kemudian, adakah jaminan bahwa angka tertentu yang
terkandung dalam TOEFL dan IELTS benar-benar mencerminkan kemampuan
bahasa Inggris seseorang? Apa pula beda antara TOEFL dan IELTS?

TOEFL atau Test Of English as a Foreign Language. Tes ini dibuat oleh
sebuah lembaga pendidikan, Educational Testing Service (ETS) di
Princeton, New Jersey, Amerika Serikat.

TOEFL dimaksudkan sebagai alat ukur atau evaluasi atas kemampuan
berbahasa Inggris seseorang. TOEFL sendiri ada tiga jenis, yaitu TOEFL
International, TOEFL ITP (Institutional Testing Program), dan TOEFL
Prediction. TOEFL Internasional sering juga disebut sebagai
computer-based TOEFL (CBT) karena bentuk tesnya menggunakan komputer.
TOEFL ITP berupa tes tertulis, dan sering disebut paper-based TOEFL
(PBT). Sedangkan TOEFL Prediction merupakan bentuk tes yang mirip
TOEFL, tetapi tidak dikeluarkan/ diprakarsai ETS.

Kini, CBT sudah banyak digunakan sejumlah lembaga pendidikan dan
kantor untuk mengetahui kemampuan bahasa Inggris calon mahasiswa atau
karyawan. Seperti tes lainnya, CBT mengandung empat unsur, yaitu
menyimak (listening), berbicara (speaking) yang kadang diganti dengan
gramatika (structure), membaca (reading), dan menulis (writing).

Listening dimaksudkan untuk mengukur kemampuan mendengar dan menyimak
bahasa Inggris, structure untuk mengukur kemampuan berbahasa Inggris
dengan gramatika baku, reading untuk mengukur kemampuan memahami
bacaan, dan writing sebagai sarana untuk mengukur kemampuan mengungkap
gagasan dalam tulisan berbahasa Inggris.

IELTS saingan TOEFL?

Selain TOEFL, kita juga sering mendengar kata IELTS. IELTS merupakan
singkatan dari The International English Language Testing System.
Kalau TOEFL merupakan tes berdasar Educational Testing Service (ETS)
di Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, IELTS dibuat oleh Inggris
dan Australia. Boleh dikata, IELTS sebenarnya untuk negara-negara
tujuan berbahasa Inggris seperti negeri Inggris dan commonwealth
(persemakmuran) .

“Meski demikian, bukan berarti TOEFL hanya untuk Amerika, sedangkan
IELTS untuk Inggris dan negara persemakmuran. Kini, baik TOEFL dan
IELTS sudah bisa diterima di mana pun. Yang membedakan hanyalah angka
skor,” ujar Mariam Kartikatresni, Manajer Bisnis The British
Institute.

Dikemukakan, skor IELTS berkisar 0-9. Sedangkan skor TOEFL bisa
mencapai ratusan. Bagi mereka yang akan belajar ke luar negeri, amat
diharapkan nilai TOEFL lebih dari 500. Angka 400-450 sering dianggap
limited users, yaitu seseorang bisa berkomunikasi secara singkat
dengan disertai kesalahan.

Angka 450-500 sering disebut marginal user, si pemakai mampu melakukan
percakapan dasar dan dalam situasi yang tidak mendesak. Angka 501-525
disebut modest users, pemakai mampu berkomunikasi dan jarang melakukan
kesalahan. Angka 526-550 disebut competent users, pemakai dapat
berkomunikasi dalam berbagai situasi. Dan yang paling tinggi 550 ke
atas yang disebut good user, dan pemakai sudah mampu berkomunikasi
dalam berbagai situasi.

Mana yang akan dipilih, TOEFL atau IELTS, silakan pilih sendiri, mana
yang lebih disukai.

“Tetapi, yang jelas angka-angka yang tertera baik dalam TOEFL maupun
IELTS itu akan selalu berubah, sesuai perkembangan dan tuntutan
zaman,” tutur Mariam. (ton)

Sumber : KOMPAS

Advertisements

August 9, 2008 Posted by | Education, News - Articles | 1 Comment

10 kiat ini merupakan cara mengelola KBM tanpa tekanan

10 kiat ini merupakan cara mengelola KBM tanpa tekanan, hal ini untuk mengkondusifkan, agar sekolah menyenangkan bagi siswa.

Kiat-kiat  di bawah ini sangat baik untuk diterapkan. Namun perlu diingat, bahwa satu kiat dapat berhasil untuk satu anak, namun belum tentu cocok untuk anak lain.

Adapun kiat-kiat tersebut adalah :

1. Ciptakan Suasana Komunikasi dengan Dukungan atau PenerimaanJika kita bersikap menerima anak apa adanya, insya-Allah, anak akan berkembang, tumbuh, berubah, dan merasa nyaman akan dirinya sendiri. Jika anak-anak kita telah merasa nyaman, tentu akan dengan mudah dapat bergaul. Inilah proses awal kita menciptakan suasana tanpa tekanan yang menjadikan anak-anak tersiksa.

 

Lihat hubungan sebab akibat di bawah ini !

   
   
   

GURU

SISWA

 

MENGANCAM

 

Saya tidak dianggap

   

 

MEMERINTAH

 

Saya buruk

 

BERKHOTBAH

 

Kamu tidak suka saya

 

MENGKULIAHI

 

Saya tidak dapat mengerjakan sesuatu dengan benar

2. Mengorkestrasikan Lingkungan

Mungkinkah kita mendapati anak-anak usia tiga tahun belajar dengan duduk secara tenang di dalam kelas sepanjang hari? Tetapi jika itu selalu terjadi meruapakan peristiwa yang aneh dan mustahil. Mestinya mereka akan belajar dengan cara berlari, berayun-ayun, berbicara, bertanya, bermain, bergerak, menggangu temannya dan aktivitas kinistetik lainnya. Kalau kita mau meneliti berapa menit anak dapat diam, dan duduk manis. Dan jika dipaksa bukankan ini meruapakan tekanan batin, dan tekanan fisik yang sangat menyiksa.

Kondisi real pendidikan kita adalah anak-anak membutuhkan guru yang terampil dengan mengorkestrasikan lingkungan. Guru mampu memanfaatkan lingkungan belajar untuk media belajar.

Misalnya guru menyiapkan kelas dengan bunga agar aroma segar dan mendukung suasana belajar. Mereka menempelkan poster-poster. Guru menyuguhkan seluruh poin penting yang harus dipelajari dalam bentuk kata-kata maupun gambar.

3. Mencuri Perhatian Siswa

Dalam buku “The Learning Way” digambarkan dalam mencuri perhatian dengan cara :

Mendatangkan tamu yang mengejutkan (tiba-tiba).

Melakukan perjalanan misteri.

Kunjungan lapangan (yang menjadi angan-angan siswa).

Pameran binatang kesukaan siswa.

Pertunjukan drama, boneka, dongeng, dll

4. Berilah Sentuhan Aktivitas Dini

Aktivitas dini merupakan kegiatan-kegiatan awal untuk meningkatkan aliran oksigen dalam otak, mengendorkan ketegangan siswa baik secara mental maupun fisik, menciptakan suasana agar siswa saling kenal. Relaksasi merupakan cara untuk menghindarkan suasana penuh tekanan menjadi lebih bersahabat dan menyenangkan. Sebaiknya kita tidak memulai pelajaran dengan hal-hal yang serius, menyulitkan, dan membosankan. Marilah kita memberi sentuhan yang hangat, bersahabat dan tanpa tekanan.

5. Gunakan Pembuka Pintu

Pembuka pintu maksudnya adalah memulai pembicaraan dengan cara percakapan yang dapat mendorong mereka untuk berbicara lebih banyak, berbagi ide-ide dan perasaan. Anak dimotivasi untuk mengeluarkan gagasan. Hal ini untuk menumbuhkan keberanian dan kepercayaan.

6.  Jadikan Kita Pendengar Penuh Perhatian

Berhentilah dari segala kegiatan jika ada anak yang akan mengatakan sesuatu. Dengarkanlah dengan penuh perhatian. Atau kita tidak boleh berpura-pura memperhatikan padahal kita sibuk dengan urusaan sendiri. ini merupakan sikap terpuji

7.  Bisakah Kita Mengurangi Perkataan “JANGAN”

Katakan pada anak yang seharusnya dilakukan daripada mengatakan apa yang tidak boleh dilakukannya. Guru memang terbiasa dengan perkataan jangan, namun perlu diubah sehingga kondisi sekolah menjadi akrab dan menyenangkan, tanpa tekanan.

Jangan menyeret-nyeret handukmu di lantai !

Peganglah handukmu agar tidak terseret-seret

 

Jangan membanting pintu!

 

Tolong tutup pintu dengan pelan-pelan

 

Jangan menggambar, corat-coret di atas meja !

 

Kamu dapat mengambar dan mewarna di kertas ini.


8. Buatlah Permintaan Kita Menjadi Sederhana
Peraturan dan tata tertib di sekolah sebaiknya di susun secara sederhana. Kalau perlu anak dilibatkan dalam membuatnya, minimal adalah tata tertib dalam kelas yang disepakati oleh siswa.


9. Hentikan Kekerasan Fisik atau MentalAnak-anak memerlukan kasih sayang, tidak lagi membutuhkan perlakuan kasar. Misalnya kata-kata yang sering kita ucapkan adalah :
” Kamu bertingkahlaku seperti anak kecil saja.”

 

Ø ini mencemooh.
” Kamu memalukan Pak Guru.”
Ø
ini merendahkan.
” Kamu anak bandel.”
Ø
ini mengejek.

10. Berlatihlah dan Hidupkan Budaya Guru
Berterima Kasih kepada Siswa

 

Siswa berhak mendapatkan perlakuan seperti guru dengan teman sebangkunya. Siswa akan meniru tingkah laku guru dalam memperlakukan dirinya. Biarkan kita berkorban dengan selalu mengatakan terima kasih kepada siswa agar mereka dapat meniru prilaku kita.

Biarkan mereka meniru gurunya untuk mengatakan tolong, karena kita selalu mengunakan kata-kata itu. Dengan ini kita sudah mencoba untuk membangun peradaban. Semoga besok sekolah kita tidak lagi menakutkan.

Source: http://fithmuth.multiply.com/journal/item/17

July 9, 2008 Posted by | Education | 2 Comments

Atasi Pengangguran dengan Kecakapan Hidup

Atasi Pengangguran dengan Kecakapan Hidup

 

 

Pertumbuhan ekonomi sangat memengaruhi angka pengangguran. Menurut Direktur Perencanaan Ekonomi Makro Bappenas, Bambang Priambodo, setiap satu persen pertumbuhan PDB, hanya mampu menyerap 300-400 ribu orang tenaga kerja. Sementera pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2007 lalu hanya 6,2 persen saja.

Itu artinya, untuk tahun 2008 ini, hanya 1,8 hingga 2 juta orang pengangguran saja yang bisa mendapatkan pekerjaan. Bisa dihitung, kalau Indonesia bertekad menuntaskan masalah pengangguran, maka pertumbuhan ekonomi harus lima kali lipat. Sebab, jumlah pengangguran terbuka kita sekitar 10,10 juta orang.

Melihat kenyataan ini, semestinya lembaga-lembaga pendidikan, punya tanggung jawab moral terhadap lulusannya, jangan sampai menambah deretan jumlah pengangguran yang sudah ada. Jalannya tentu saja membangun mentalitas entrepreneur dan kecakapan hidup (life skill), tamat dari studi, bukan mencari pekerjaan, melainkan menciptakan lapangan pekerjaan.

 

Sesuai Kebutuhan

Menurut UU No 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) pendidikan dibagi ke dalam tiga katagori: informal adalah pendidikan di rumah tangga; formal merupakan pendidikan yang berjenjang dari SD hingga perguruan tinggi; sedangkan nonformal adalah pendidikan luar sekolah seperti life skill.

            Bangsa yang terdiri dari lebih 220 juta jiwa ini sesungguhnya merupakan komunitas yang begitu majemuk (heterogen) dengan tingkat kebutuhan yang majemuk pula. Artinya, tidak semua orang di Indonesia ini bercita-cita ataupun mampu meraih cita-cita sebagai sarjana: S1, S2, S3 dan lainnnya. Nah, memaksakan pemikiran kepada polarisme merupakan sesuatu yang sejatinya perbuatan sangat tidak mendidik dan bertentangan dengan konsep pendidikan yang membebaskan.

            Pendidikan sesuai kebutuhan itu apa? Tentu akan terlontar pertanyaan. Jawabnya juga sangat sederhana. Ketika orangtua mendaftarkan anaknya ke SD (Sekolah Dasar), apa yang diharapkannya, sesungguhnya tidak banyak. Kelak, bila si anak tamat SD, diharapkan dapat membaca, menulis dan berhitung. Pun, bila mungkin beretika alias punya budi pekerti.

            Setelah tamat SD, orangtua mengukur kemampuan kocek serta kebutuhannya untuk kelanjutan pendidikan anak-anak mereka. Bila orangtua yang berprofesi petani, sangat boleh jadi kebutuhan mereka, anak-anak dapat mengembangkan usaha pertanian ke arah yang lebih baik serta menyejahterakan. Maka pendidikan selanjutnya tentu ke arah itu. Begitu juga dengan kaum nelayan (tradisional) sangat mungkin berharap, anak-anaknya dapat lebih meningkatkan hasil tangkapan (hasil laut), juga harga jual yang layak dan lainnya.

            Seyoginya, lembaga pendidikan mengakomodir kebutuhan semua lapisan masyarakat yang ada di Indonesia. Pendidikan yang hanya berorientasi kepada kalangan pemilik uang, sesungguhnya merupakan hal yang jauh dari apa yang disebut pendidikan yang membebaskan.

 

Tak Dapat Melanjut

Berbagai kemungkinan dapat menyebabkan peserta didik tak dapat melanjutkan pendidikan formal ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang memang karena ketidakmampuan orangtua, ada pula karena malas, bencana alam, dan lainnya. Justru itu, program life skill seperti bidang komputer, jahit-menjahit, montir, bahasa Inggris serta lainnya sangat besar manfaatnya buat kehidupan.

Mentalitas entrepreneur saja tanpa dibarengi kecakapan hidup, boleh jadi akan hampa. Kecakapan hidup merupakan modal dasar yang tentu saja akan menemukan kesejatiannya jika dikombinasikan dengan entrepreneurial ship.

Apalagi keahlian-keahlian seperti komputer dipadu dengan kemampuan berbahasa asing, seperti bahasa Inggris maka peluang kerja – membuka lapangan pekerjaan maupun mencari kerja – akan semakin terbuka lebar. Saat ini – sesuai dengan tuntutan globalisasi – mengandalkan ijazah saja (bahkan S1) tidaklah cukup tanpa dibarengi dengan kecapakan hidup (life skill).

Karena itu pula, dewasa ini begitu menjamur sekolah-sekolah tinggi, akademi dan sejenisnya yang menawarkan program Diploma 1 (D1) hingga D3. Namun, program-program diploma itu, juga terkesan masih mahal menurut ukuran kocek kelas menengah bawah.

Alternatif yang dapat dilakukan adalah pengadaan program life skill, yang sangat boleh jadi – selama mengikuti program ini – pesertanya akan lebih punya kecakapan dibanding S1 jurusan informatika komputer, misalnya. Bayangkan, kalau tiga bulan terus-menerus belajar (praktik) tentang informatika komputer, rasanya wajarlah kalau pesertanya menguasai apa-apa yang diajarkan (dilatihkan).

Dewasa ini, kegiatan life skill sangat cocok diterapkan. Mengapa tidak, jumlah angkatan kerja yang menganggur cukup krusial untuk jadi perhatian serius. Angkatan kerja yang menganggur di Indonesia melampaui standar ILO (International Labour Organization), 20 persen dari jumlah penduduk. Sementara, angka pengangguran di Indonesia sudah melampaui 28 persen. Ini berbahaya.

Dengan upaya-upaya pelatihan life skill, niscaya angkatan kerja kita punya keterampilan yang siap pakai dan profesional, sehingga tidak menganggur atau menjadi tenaga kerja murahan. Jadi, jika ada program yang digulirkan pemerintah bekerjasama dengan lembaga swasta atau LSM maupun NGO, seharusnyalah peserta menghargai niat baik pemerintah ini dengan belajar bersungguh-sungguh.

 

Memperbaiki Nasib

            Manakala pendidikan telah dapat berfungsi sebagai pembebas dan proses pembelajaran merupakan hal yang menggembirakan, niscaya pendidikan pun dapat berfungsi sebagai lembaga perbaikan nasib. Untuk dapat menjadikan pendidikan sebagai lembaga perbaikan nasib, prestasi yang dicapai siswa/mahasiswa seyogianya secara signifikan berhubungan dengan kesempatan memperoleh pekerjaan sesuai dengan keahlian atau prestasinya. Artinya, siswa yang berprestasi dengan sendirinya akan dapat memperoleh pekerjaan seperti yang diharapkannya. Bila rekrutmen tenaga kerja – baik PNS, TNI. Polri, dan swasta – masih memberlakukan 3D (duit, deking dan dukun) maka sepanjang itu pula lembaga pendidikan bukan merupakan sarana atau lembaga perbaikan nasib.

            Nah, kalau pendidikan bukan merupakan sarana perbaikan nasib, maka peserta didik pun bersekolah atau kuliah hanya formalitas saja, sekadar memperoleh ijazah. Sebab, kelak mereka dapat memastikan diri akan dapat menduduki posisi-posisi penting bila mereka punya uang, jabatan orangtua, relasi dan mungkin juga dukun.

“Tokh tanpa susah-susah belajar, aku dapat lulus dengan baik! Tokh lagi, tanpa prestasi apa pun, kelak aku dapat menduduki posisi penting sesuai keinginanku lewat uang, relasi atau jabatan Bapakku,” tutur para peserta didik. Jika terus begini, lambat atau cepat negara dan bangsa ini akan tenggelam ke dalam rawa-rawa sejarah yang kelam. ***

Wartawan SUARA MASA

July 5, 2008 Posted by | Education | 3 Comments

Gizi dan Kecerdasan

 

Akankah kini masyarakat miskin kota dapat memenuhi standar gizi sebagaimana yang dituntut dalam konsep empar sehat lima sempurna? Kalau jawabnya ‘ya’, bagaimana caranya memenuhi kebutuhan gizi itu di tengah harga-harga yang kian hari kian melambung. Kalau jawabnya ‘tidak’, niscaya orang-orang miskin kota akan tetaplah sebagai orang miskin, atau miskin permanen.

Orang miskin karena bodoh, orang bodoh karena miskin, ungkapan itu rasanya kini tak terbantah. Mengapa tidak, kecerdasan sangat berkait erat dengan terpenuhinya kebutuhan gizi. Sedangkan gizi – kini – hanya akan dapat terpenuhi dengan kualitas pendapatan yang baik. Harga ikan per kilonya kini tak ada yang di bawah Rp 10 ribu. Lalu, bagaimana nasib orang-orang miskin yang pendapatannya berkisar Rp 200 – 300 ribu per bulan?

Ya, zaman bergerak kawan. Desa-desa – yang empat-lima puluh tahun lalu – tempat kita dilahirkan dalam keniscayaan sejarah, berubah jadi kota-kota yang padat. Alam yang dulu masih ‘berbaik hati’ memberi bangsa manusia dengan gizi, kini pergi dilindas ‘keserakahan kota’.

Masih dengan jelas terpatri di ingatan – dulu – di samping atau belakang rumah kita bertaburan makanan pemberi gizi seperti jamur yang tumbuh di batang-batang pohon tumbang, kemumu, keladi dan umbi-umbian lainnya. Pisang-pisang dan buah-buahan pun berserak begitu rupa. Ya, tongkat kayu dan batu jadi tanaman, sebagaimana dilantunkan Koes Plus dalam lagunya, kini tinggal dalam kenangan. Ketika itu, kita tinggal menggerakkan kaki dan tangan untuk mengutip gizi-gizi tersebut.

Rawa-rawa di samping atau belakang rumah juga memberi gizi seperti ikan-ikan berbagai jenis. Sungai-sungai apalagi: ada udang-udang kecil, ciput, remis, dari ikan timah, lemeduk, baung, sepat, sampai ikan-ikan besar lainnya tersaji buat kita.

Remis dan ciput (seafood), berserak di pasir-pasir sungai, tinggal menjulurkan tangan dan membawa wadah, maka semuanya dapat menjadi tambahan gizi. Tapi kini, sungai-sungai kita di kota, katakanlah Sungai Deli (di kota Medan), yang ada tinggal ikan sapu kaca dengan daging yang nyaris tak ada dan tulang begitu keras. Aduh!

Rumah berhalaman, itu hanya impian masyarakat kota yang miskin. Mengapa tidak, rumah-rumah kecil saja, kini berharga puluhan bahkan ratusan juta. Tinggal di kota, kini semua serba bayar, kecuali – maaf – buang angin. Buang air besar dan kecil saja harus bayar.

Sementara, di buku-buku kita baca, mutu pendidikan tergantung kualitas kesehatan. Maksudnya, jika bangsa ini ingin memacu tingkat pendidikan ke arah yang lebih baik, maka mau tidak mau harus diperhatikan kualitas kesehatannya.

Ya, pembentukan sel-sel otak manusia dimulai dari umur nol hingga lima tahun. Kompenen-kompenen pembentukan sel otak bayi itu hanya dimungkinkan dengan penuhan makanan bergizi seperti susu, madu lebah, ikan, sayur-mayur dan lainnya.

Kesehatan maksimal umpama pepatah Minang: Tak lakang dek paneh tak lapuak dek hujan Artinya, kalau tercapai kesehatan maksimal, kita tak gampang didera penyakit. Dengan gizi yang baik, seseorang tidak gampang lelah dan jenuh. Orang yang tak gampang lelah dan jenuh akan mudah dipacu untuk menguasai ilmu pengetahuan. Jadi perbaikan kualitas pendidikan harus seiring dengan perbaikan kualitas gizi. Akankah itu dapat terselenggara di tengah-tengah masyarakat kota yang miskin? ***

 

Wartawan SKM SUARA MASA

July 4, 2008 Posted by | Education, Health | 3 Comments

Fenomena Uang di PTN Kita

Saat ini ada lima jalur untuk lulus PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Kalau punya uang relatif banyak, tak perlu mikir keras, saat ini ada JK (Jalur Khusus). Siswa kelas 3 SLTA yang berkeinginan kuliah di PTN, jika cukup uang, tak perlu repot-repot ikut seleksi, bayar saja sesuai ketentuan. Selesai.
Jika keuangan relatif sedikit maka ada juga jalur ‘jalan tol’ untuk masuk di PTN yang tentu saja harus punya otak cemerlang alias encer. Persiapkan diri jadi yang terbaik: Ranking I, II dan III di sekolah, berkemungkinan dapat menempuh Jalur PMP (Pengembangan Minat dan Prestasi), masuk PTN tanpa testing.
Cuma, lewat PMP – yang memang dikhususkan bagi siswa-siswi unggulan – dibarengi dengan ketentuan unggul pula dalam bidang akademis. Selain harus lulus test psikologi, nilai akumulatif alias IP (Indeks Prestasi) semester I, tidak boleh di bawah 2,7. Jika tidak mencapai skor dimaksud, maka mahasiswa atau mahasiswi tersebut harus mengikhlaskan diri DO (drop out).
Andai siswa-siswi SLTA tak berhasil menjadi yang terbaik: I, II dan III di sekolahnya, dapat mengikuti UMB-SPMB (Ujian Masuk Bersama-Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru) untuk lima PTN: USU (Universitas Sumatera Utara), UNJ (Universitas Negeri Jakarta), UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, UI (Universitas Indonesia) dan Unhas (Universitas Negeri Hasanuddin). UMB diselenggarakan pada 7-8 Juni 2008. Untuk USU 85 persen dari bangku yang ada tersedia untuk UMB.
Setelah itu ada pula SNM-PTN (Seleksi Nasional Masuk-Perguruan Tinggi Negeri) yang seleksinya pada 2-3 Juli 2008. Untuk USU, bangku SNM-PTN ini hanya 15 persen saja.
Sebenarnya UMB-SPMB juga menjaring orang-orang yang berkemampuan akademik di atas rata-rata. Mengapa tidak, bangku yang tersedia untuk itu sangat terbatas. Bayangkan, untuk USU, dari formulir yang terjual puluhan ribu, bangku yang tersedia hanya 3000 saja. Yang 3000 bangku itu pun harus berbagi pula dengan PMP, Ekstensi, dan JK.
Andai siswa-siswi SLTA yang mengikuti UMB-SPMB tak berhasil lulus, masih ada kesempatan untuk ke PTN, lewat jalur SNM-PTN, jika tak juga lulus ada dua jalan yang dapat ditempuh. Pertama, kuliah dulu di Program DIII. Setelah lulus – boleh bekerja maupun tidak – lalu mengikuti S1 di USU (PTN). Inilah yang disebut Ekstensi.

Berkantong Tebal
Jalan berikutnya adalah Jalur Khusus (JK) seperti yang disebutkan pada awal tulisan. Cuma, JK ini dibuntututi dengan sumbangan pembangunan pendidikan yang membuat orang-orang di strata bawah tercengang-cengang. Konon kabarnya di ITB Departeman Teknik Fisika disedikan 10 bangku dengan biaya pendidikan masing-masing 25.000 dolar AS (Kompas, 17 Juni 2003). Jika satu dolar AS Rp 8 ribu saja, maka satu bangku di departeman dimaksud Rp 200 juta.
Hal yang sama juga terjadi di IPB, UI, dan UGM. Bahkan UGM – ketika itu – melakukan penjaringan calon mahasiswa baru swadana jauh hari sebelun UAN (Ujian Akhir Nasional) – sekarang UN (Ujian Nasional) – dilaksanakan. Materi penjaringan dengan test tertulis dan formulir kesediaan menyumbang sejumlah uang sesuai kemampuan.
Sumbangan untuk jurusan “basah” seperti kedokteran bisa sampai Rp 50 juta atau lebih. Memang ada sejumlah calon mahasiswa baru swadana ini yang diterima tidak memberikan sumbangan alias nol rupiah tetapi mereka masih arus berurusan dengan birokrasi kampus untuk diteliti status sosialnya. Sudah dapat dipastikan, JK memang dikhususkan buat orang-orang berkantong tebal.
Fenomena apa yang sebenarnya sedang terjadi pada perguruan tinggi (PT) BHMN? Berawal dari ide agar PTN mandiri secara financial. Maka digulirkanlah BHMN pada tahun 2003 lampau. Ketika perguruan-perguruan tinggi negeri (PTN) berubah menjadi BHMN (Berbadan Hukum Milik Negara), maka cara-cara seleksi pun berubah pula. Perubahan dimulai dengan UI, UGM, IPB, dan ITB, disusul USU, Unsiyah, Unhas dan lain sebagainya. Dengan BHMN, bertambahlah jalur memasuki PTN.
Saat kondisi serba sulit karena krisis ekonomi yang berkepanjangan, kita justru disuguhi tontonan “mengerikan” yaitu tingginya biaya pendidikan tinggi.
Seyogianya institusi pendidikan negeri dari SD sampai PT dibentuk untuk menampung anak-anak Indonesia yang kurang mampu secara finansial tetapi berkemampuan akademik. Dengan dibukanya JK, jelas mengurangi kesempatan anak-anak yang kurang mampu secara finansial. Mengapa tidak, jika misalnya di USU disediakan 3000 bangku, 500 sudah diambil ekstensi, 500 untuk PMP dan 500 lagi Jalur Khusus, maka jalur UMB-SPMB dan SNM-PTN tinggal 1500 bangku saja.
Bagi ana-anak yang kurang mampu secara finansial, tentunya harus mempunyai kemampuan kecerdasan di atas rata-rata untuk dapat “menerobos” tembok PTN. Bila kemampuan akademiknya hanya rata-rata, niscaya akan tersingkir karena kesempatan untuk itu makin sedikit.
Sementara untuk jadi cerdas serta berkualitas, diperlukan di samping sarana dan prasana, juga gizi yang baik. Apa mungkin anak-anak kurang mampu secara finansial dewasa ini dapat memenuhi tuntutan gizi agar dapat menjadi cerdas? Sebab, biaya hidup kini sangatlah tinggi serta mahal.

Tak mampu bangkit
Kondisi ini membuat orang-orang miskin tak mampu bangkit dari kemiskinanya. Mereka akan terus menjadi miskin karena tidak memiliki keluasan ilmu pengetahuan, sebagaimana yang diperolah kawan-kawannya di perguran tinggi negeri. Untuk kuliah di swasta pun memerlukan dana yang tidak sedikit pula. Singkatnya, yang miskin makin terjepit.
Padahal sebagaimana ditegaskan dalam alenia IV Pembukaan UUD 1945 adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagai tujuan nasional, semestinyalah negara kita melalui pemerintah berupaya mewujudkannya karena keseluruhan aktivitas pemerintah dan pembangunan negara gilirannya bermuara pada pencapaian tujuan nasional melalui aktualisasi seluruh potensi bangsa secara efisien dan efektif.
Begitu juga di dalam Batang Tubuh UUD 1945 (Pasal 31) ditegaskan, salah satu hak warga negara yakni mendapatkan pendidikan atau pengajaran. Sebagai hak, semestinyalah negara (melalui pemerintah) berupaya mewujudkannya.
Lewat PTN BHMN hak-hak warga negara – terutama kalangan yang kurang mampu secara finansial – dipersempit. Semestinya PTN BHMN membuat cara yang lebih elegan untuk mencari dana. Misalnya dengan mengoptimalkan lembaga-lembaga penelitian, yang kemudian “menjual” produk penelitiannya kepada para pengusaha. Dengan JK ini, jelas-jelas petinggi bidang pendidikan tidak atau kurang punya perhatian pada rakyat kecil. Mereka hanya berorientasi pada kapital (uang).
Bila latar belakang diberlakukan BHMN ini karena anggaran (subsidi) pemerintah yang dikurangi atau dihapuskan, maka seyogianya para pelaku pendidikan – khusususnya PTN – menggugat DPR RI. Pasalnya, anggaran pendidikan kita jauh di bawah 20 persen dari total APBD. Padahal, menurut Pasal 31 Ayat (4) UUD 1945 Amandemen Keempat menyebutkan, negara memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelangaraan pendidikian nasional.
Dalam pada itu, Eddy Hiariel, dosen UGM, menerangkan dalam tulisannya (Kompas, 27 Juni 2003), diberlakukannya JK dalam upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ia membandingkan biaya pendidikan di Indonesia yang sangat rendah dengan luar negeri. Katanya, tanpa uang, bagaimana mungkin bisa maju.
Pertanyaannya, apakah hal tersebut bukan merupakan perbuatan diskriminasi (negatif)? Juga, tidakkah memberlakukan JK adalah kapitalisasi pendidikan? Jawabnya, kita serahkan saja kepada para ahli. Yang pasti, JK memperbesar kesempatan orang berduit untuk mempertahankan status. Bahkan JK pada gilirannya membentuk manusia-manusia materialistik yang cendrung hedonis.
Kenapa kita katakan hedonis? Jawabnya sederhana saja. Orang-orang yang memiliki uang, lewat JK ini menguatkan semangat kebendaan (materialisme)-nya. Betapa dengan duit, ia dapat membeli segalanya, termasuk pendidikan. Sementara, oprang-orang yang tidak (kurang) mampu secara finansial, hanya jadi penonton.***

*Kolomnis Berbagai Media

June 23, 2008 Posted by | Education | Leave a comment

SMP Terbuka (Gratis)

Jika tidak berkeberatan, tolong sebarkan info berikut.. Jika anda mengenal atau mengetahui ada anak miskin atau dari golongan kurang mampu, lulus SD (berijasah) tetapi tidak dapat meneruskan ke SMP, umur max 18 tahun, tinggal di Jakarta Selatan, dapat menghubungi: Ibu Ade, Pancoran Timur VIII no. 4B Jakarta 12770 telp. 021-7990412 HP. 085691500258Untuk selanjutnya akan disurvei. Jika tidak ada halangan tahun ini akan dibuka sekolah rakyat (SMP terbuka) gratis di Jakarta Selatan khusus untuk anak miskin dan dari golongan tidak mampu ..

Best Regards,

Ade Andria

Outreach Sampoerna Foundation

Sampoerna Strategic Square Tower A, 27th Floor

Jl. Jendral Sudirman. Jakarta

June 21, 2008 Posted by | Education, Info and Events | Leave a comment

Rumus Fisika – Physics Formula

Nih ada Rumus-rumus lengkap Fisika yang diunduh dari Banksoal.sebarin.com. Thx to them.

Untuk mempercepat kamu DL maka disini udah saya compress file PDF-nya ke RAR, jadi ukuran filenya lebih kecil. Trus, udah digabungkan beberapa file PDF ke dalam satu file RAR sehingga mempermudah kamu DL, soalnya di tempat aslinya yaitu di Sebarin.com, kamu mesti Dl satu per satu file PDF-nya.

Ok d, ini dia filenya, silakan diunduh:

01-besaran-dan-satuan, 02-gerak-lurus, 03-hukum-newton-new

04-memadu-gerak, 05-gerak-melingkar, 06-gravitasi

07-usaha-dan-energi, 08-momentum, 09-elastisitas

10-fluida, 11-gelombang-bunyi, 12-suhu-dan-kalor

13-listrik-statis, 14-listrik-dinamis, 15-medan-magnet

16-imbas-elektromagnetik, 17-optika-geometri, 18-alat-optik

19-arus-bolak-balik, 20-perkembangan-teori-atom, 21-radioaktif

22-kesetimbangan-benda-tegar, 23-titik-berat-benda, 24-teori-kinetik-gas

25-hukum-termodinamika, 26-gelombang-elektromagnet, 27-optika-fisis, 28-relativitas, 29-dualisme-gelombang-partikel

June 7, 2008 Posted by | Downloads, Education, UN-UMPTN-SPMB-SNMPTN | 5 Comments

Presentation Tips

Here You can Download some presentation tips in PDF format.

Enjoy it!

June 7, 2008 Posted by | Downloads, Education | Leave a comment

Management Lessons

Story # 1

It’s a fine sunny day in the forest and a lion is sitting outside his cave, lying lazily in the sun. Along comes a fox, out on a walk.
Fox: “Do you know the time, because my watch is broken”
Lion: “Oh, I can easily fix the watch for you”
Fox: “Hmm… But it’s a very complicated mechanism, and your big claws will only destroy it even more.”
Lion: “Oh no, give it to me, and it will be fixed”
Fox: “That’s ridiculous! Any fool knows that lazy lions with great claws Cannot fix complicated watches”
Lion: “Sure they do, give it to me and it will be fixed”
The lion disappears into his cave, and after a while he comes back with the watch which is running perfectly. The fox is impressed, and the lion continues to lie lazily in the sun, looking very pleased with himself.
Soon a wolf comes along and stops to watch the lazy lion in the sun.
Wolf: “Can I come and watch TV tonight with you, because mine is broken”
Lion: “Oh, I can easily fix your TV for you”
Wolf: “You don’t expect me to believe such rubbish, do you? There is no way that a lazy lion with big claws can fix a complicated TV
Lion: “No problem. Do you want to try it?”
The lion goes into his cave, and after a while comes back with a perfectly
fixed TV. The wolf goes away happily and amazed.
Scene :
Inside the lion’s cave. In one corner are half a dozen small and intelligent looking rabbits who are busily doing very complicated work with very detailed instruments. In the other corner lies
a huge lion looking very pleased with himself.

Moral :
IF YOU WANT TO KNOW WHY A MANAGER IS FAMOUS; LOOK
AT THE WORK OF HIS SUBORDINATES.

Management Lesson in the context of the working
world :
IF YOU WANT TO KNOW WHY SOMEONE UNDESERVED IS PROMOTED; LOOK AT THE WORK OF HIS SUBORDINATES

Story # 2
It’s a fine sunny day in the forest and a rabbit is sitting outside his
burrow, tippy-tapping on his typewriter. Along comes a fox, out for a walk.

Fox: “What are you working on?”
Rabbit: “My thesis.”
Fox: “Hmm… What is it about?”
Rabbit: “Oh, I’m writing about how rabbits eat foxes.”
Fox: “That’s ridiculous ! Any fool knows that rabbits don’t eat foxes!
Rabbit: “Come with me and I’ll show you!”
They both disappear into the rabbit’s burrow. After few minutes, gnawing on a fox bone, the rabbit returns to his typewriter and resumes typing.
Soon a wolf comes along and stops to watch the hardworking rabbit.
Wolf: “What’s that you are writing?”
Rabbit: “I’m doing a thesis on how rabbits eat wolves.”
Wolf: “you don’t expect to get such rubbish published, do you?”
Rabbit: “No problem. Do you want to see why?”
The rabbit and the wolf go into the burrow and again the rabbit returns by himself, after a few minutes, and goes back to typing. Finally a bear comes along and asks, “What are you doing?
Rabbit: “I’m doing a thesis on how rabbits eat bears.”
Bear: “Well that’s absurd!”
Rabbit: “Come into my home and I’ll show you”
Scene : As they enter the burrow, the rabbit introduces the bear to the lion.

Moral:
IT DOESN’T MATTER HOW SILLY YOUR THESIS TOPIC IS;
WHAT MATTERS IS WHOM YOU HAVE AS A SUPERVISOR.

Management Lesson in the context of the working world:
IT DOESN’T MATTER HOW BAD YOUR PERFORMANCE IS; WHAT
MATTERS IS WHETHER YOUR BOSS LIKES YOU OR NOT

June 6, 2008 Posted by | Education, Life Style, Soul's Medicine | Leave a comment

Boy and Tree

There was one time a very young boy, who used to spend time playing by a tree.

One day he got bored and he said to the tree, “I’m bored, I’ve played with these toys too many times!”

The tree replied, “OK, you can climb up on me and play on my branches.”

The boy got really happy with this suggestion and he had a lot of fun playing and sitting high up, on the branches of the tree.

When he started school, he spent more time away from the tree, but one day he came back to it, and the tree was overjoyed to see its young companion, and it encouraged him to climb on, but he refused.

“My clothes are going to get dirty if I climb up on you.”
So the tree thought for a while, and said, “OK, bring a rope and tie it to me, and you can use my branches as a swing.”

The boy liked that idea, so he did that too, and would come back every other day to sit for a while on that swing.

Whenever he used to get hot, the tree told him to rest in its shade.

As he got older, and moved on to college, times became harder on him and he ran short of food, so he went back to the tree which he had stopped visiting for a long time.

The tree recognised him immediately and welcomed him, but he was hungry and complained to the tree, “I dont have any food to eat, my stomach is cringing with hunger.”

So the tree said, “Pull down my branches and take off the fruit, and fill yourself up.”

The young guy didnt even hesitate, but jumped up and tore off one of the smaller branches and ate to his fill.

Over the weeks, he tore off all the branches and ate all the fruit.

After the fruits had all gone, he went away and didnt come back to the tree.

When he reached his middle ages, he came back to the tree and said to it, “I have been very successful in life.

I have earned a lot of money, I have a huge house and I have found a great wife.

Now I want to travel and see the world.”

The tree was now very old, but to help its long time companion, it didnt wait, and said, “Bring a saw, cut off my trunk and make a boat. Then you will see the wonders of the world.”

So again, without hesitation the man cut down the tree.

The same tree which he had played on, ate its fruit, laid in its shade; he cut it down and made a boat.

As soon as it was finished, he sailed away and wasnt seen by his people again.

One day, an old man, walked past the tree.

It hadnt recovered from the time he had cut it down. He went up to the tree, but didnt say anything.

He felt the tears coming down from his eyes.

This time the tree spoke in a faint voice, “I’m sorry. I dont have a trunk for you to climb, nor fruit for you to eat, nor branches of shade for you to lie in. All I have now are my deep roots.”

The old man whispered, “That’s fine. Tree roots are the best place to lie down, snuggle up and sleep after a long life.”

The tree symbolizes our parents, and the boy symbolizes us.

The moral of the story is that we make use of our parents like tissue, and use them all up, and dont even give thanks, but they stay with us till the very end.

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu.

Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. “Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.
“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu. “Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk
membelinya.”

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu. ” Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita. Namun, setelah itu anak lelaki tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. “Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab anak lelaki itu. “Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?” “Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel. Kemudian anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih lagi.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersuka cita menyambutnya. “Ayo bermain-main lagi denganku,” kata pohon apel.
“Aku sedih,” kata anak lelaki itu. “Aku sudah tua dan ingin hidup tenang. Aku ingin pergi berlibur dan berlayar. Maukah kau memberi aku sebuah kapal untuk pesiar?” “Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah . “Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu pergi berlayar dan tak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. “Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tak memiliki buah
apel lagi untukmu.” “Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk
mengigit buah apelmu,” jawab anak lelaki itu. “Aku juga tak memiliki
batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel. “Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab anak lelaki itu. “Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata. “Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata anak lelaki. “Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu. ” “Oooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring dipelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang. “Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air
matanya.

Ini adalah cerita tentang kita semua.


Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan.
Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orang tua kita. Sebarkan cerita ini untuk mencerahkan lebih banyak rekan. Dan, yang terpenting: cintailah orang tua kita. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintainya, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan diberikannya pada
kita.

June 6, 2008 Posted by | Education, Life Style, Soul's Medicine | Leave a comment